Pages

Subscribe:

Minggu, 23 November 2008

ARTI KEMERDEKAAN (tugas jurnalistik membuat narasi)

“Ughhh, Tuh guru ngomong apaan sih? Kemerdekaan lah…Proklamasi lah…Nggak penting banget!”
            “Anak-anak…, karena sebentar lagi kita akan memperingati kemerdekaan negara kita Republik Indonesia, pada bab ini kita akan mempelajari arti kemerdekaan! Nah, anak-anak siapa yang ingin memberikan pendapat tentang arti kemerdekaan?” Tanya Bu Vivie semangat.
            Glad tertidur dengan suksesnya….
            “Kalo begitu, coba Glad! Glad, apa arti kemerdekaan buat kamu?” Tanya Bu Vivie sambil melihat daftar nama absen.
            Glad hanya diam. Bu Vivie pun bingung karena Glad tidak kunjung menjawab pertanyaannya, lalu….
            “Ratuliu Gladrillia, apa ada peraturan sekolah yang mengijinkan muridnya untuk tidur pada saat pelajaran?” Bentak Bu Vivie yang sudah tahu mengapa Glad tidak kunjung menjawab.
            Glad pun terbangun, sambil mengucek matanya. Seisi kelas langsung menatap ke arahnya.
            “Sekarang ibu mau bertanya, apa arti kemerdekaan buat kamu?!?!” Tanya Bu Vivie tegas.
            “Bebas jadi diri sendiri dan nggak mengulang suatu keburukan. Keburukan yang membawa petaka!” Jawab Glad kesal.
            “Maksud kamu apa menjawab seperti itu ?” tanya Bu Vivie antara marah dan bingung.
            “Ya, bebas jadi diri kita sendiri! Dan bukan mengulang-ulang tentang kemerdekaan YANG NGGAK PENTING!!! Seperti ibu saat ini!” Jawab Glad setengah berteriak.
            “KAMU INI TIDAK MENGHARGAI PERJUANGAN PARA PAHLAWAN! Kalau Indonesia tidak merdeka, kamu tidak bisa enak-enakan tidur di kelas seperti saat ini! Sekarang kamu KELUAR!!! Dan jangan pernah mengikuti pelajaran saya lagi, MENGERTI?” bentak Bu Vivie.
            “SIAPA JUGA YANG MAU ADA DI KELAS NGEBOSENIN KAYAK GINI!!!” Teriak Glad sambil mengambil tasnya, lalu keluar dari kelas tersebut.
            Glad pun kabur dari sekolah. Ia memanjat tembok belakang sekolah yang ada di sebelah WC cowok. Sesampainya di luar sekolah, Glad pun pergi ke sebuah bangunan kosong. Di sana, Glad pun memainkan harmonikanya sambil menangis.
            Kenapa sih semua orang nggak ada yang mau ngertiin aku? Kenapa sih papa masukin aku ke sekolah populer yang nggak aku ingini? Kenapa sih mama maksa banget supaya aku masuk IPA?’ Batin Glad sambil menangis.
            Tiba-tiba…..
            “Ngapain kamu disini?” tanya seorang cowok kepada Glad.
            Ih, ni cowok rese ngapain sih ada di sini? Pasti disuruh mama mata-matain aku!’ ucap Glad dalam hati.
            “BUKAN URUSAN KAMU! PERGI SANA!” Bentak Glad dengan harapan si cowok tadi pergi. Tetapi cowok tersebut tidak bergeming mendengar bentakan Glad.
            “Kenapa, masih berargumen kalau seni itu lebih penting dari pelajaran eksak?” tanya Timotius yang ternyata merupakan kakak kelas sekaligus guru privat Glad.
            “Emang peduli kamu apa?”
            “Peduliku? Heh, ini sudah waktunya buat kamu les. Lagipula ngapain kamu nongkrong disini? Kamu bolos ya?” Selidik Timotius.
            “Jangan ikut campur urusan aku!” desis Glad tajam.
            “Kamu tuh, selalu aja ngebanggain seni tanpa ada sesuatu yang kamu perbuat?” ujar Timotius santai.
            “Maksud kamu apa?” tanya Glad, tersinggung.
            “Kenapa kamu nggak coba buktiin kalo seni itu ada?”

***

            Lidah Glad mendadak kelu. Hari ini adalah hari penentuan siapa saja wakil-wakil setiap kelas yang mengikuti lomba tujuh belasan di sekolah.
            “Anak-anak, untuk lomba membaca puisi, siapa yang ingin mewakili kelas kita?” Tanya Bu Debbie yang belum mendapatkan wakil lomba baca puisi untuk kelas X.9.
            “Saya, Bu!” ujar Glad dengan lantang.
            “Apa kamu yakin Glad?” Tanya Bu Debbie wali kelas X.9 yang tampak terkejut.
            “Saya yakin Bu! Saya mau menunjukkan ke kalian semua, kalau saya bukanlah yang seperti kalian bayangkan, yang sama sekali tidak menghargai kemerdekaan, tetapi saya sangat mengagung-agungkan kemerdekaan dan sedang berusaha mencarinya!”

***

ARTI KEMEDEKAAN
17 Agustus 1945
Para pejuang berhasil memerdekakan Indonesia…
Dengan semangat jiwa yang terus berkobar,
Indonesia pun merdeka…
Tapi, pada zaman merdeka sperti ini,
Tak pernah kurasakan kebhagiaan batin,
Paksaan dan siksaan terus mendera mengiris hati…
Tak pernah kurasakan arti kemerdekaan.
Oh…
Kenapa kemerdekaan,
Tak dapat kuserap di dalam hati?
Kenapa kemerdekaan,
Tak pernah bisa menebus ruang dalam kalbuku?
Kenapa kemerdekaan,
Tidak memasuki relung hatiku yang paling dalam?
Apakah kemerdekaan,
Hanya milik orang lain?
Apakah kemerdekaan,
Hanya terdapat di dalam kamus orang berkuasa?
Apakah kemerdekaan,
Tidak pernah kugapai?
Ya, aku tahu jawabnya…
Kemerdekaan bagiku,
Bebas untuk menjadi diri sendiri…
Dan tidak dijajah lagi…
            Glad membaca puisi tersebut dengan lantang dan sangat dijiwai. Semua orang bertepuk tangan dengan heboh. Para juri dan guru-guru pun kaget tak percaya. Dan Timotius pun tersenyum.

***

            Glad sangat sedih. Sesudah pertemuannya dengan Timotius di gedung kosong beberapa hari yang lalu, Glad ingin membuktikan bahwa ia bisa menunjukkan ke semua orang kalau mencintai seni terutama kepada Timotius. Tetapi sudah dua hari ini Timotius gak keliatan batang hidungnya.
            “Dan Juara I lomba membaca puisi adalah Glad dari X.9!” Ujar pak Kepsek saat mereka sedang mengadakan upacara bendera yang biasa dilakukan di hari Senen. Beliau sedang mengumumkan siapa saja yang memenamgkan perlombaan di acara peringatan HUT kemerdekaan RI kemarin.
            Kelas X.9 pun heboh. Mereka mulai menjabati tangan Glad. Tapi Glad malah menangis.
            “Kamu kenapa Glad?” tanya teman-teman Glad, bingung melihat gadis tersebut menangis.
            Glad malah  semakin kencang menangis…
            “Dan para pemenang, akan diberi hadiah secara simbolis yang diwakilkan oleh ketua OSIS kita, Pangeran Timotius! Ayo beri tepuk tangan meriah!” lanjut Pak Kepsek.
            Glad pun kaget. Ia pun langsung berlari, menerobos kerumunan orang untuk maju ke depan. Sesampainya di depan, ia memeluk Timotius. Dan Glad pun menangis sekencang-kencangnya.
            “Ratuliu Gladrillia, putriku yang baik hati, kamu tuh udah menangin hati aku.” Ucap Timotius lembut sambil membelai pipi Glad.

***