“Ughhh, Tuh guru ngomong apaan sih? Kemerdekaan
lah…Proklamasi lah…Nggak penting banget!”
“Anak-anak…,
karena sebentar lagi kita akan memperingati kemerdekaan negara kita Republik
Indonesia, pada bab ini kita akan mempelajari arti kemerdekaan! Nah, anak-anak
siapa yang ingin memberikan pendapat tentang arti kemerdekaan?” Tanya Bu Vivie
semangat.
Glad
tertidur dengan suksesnya….
“Kalo
begitu, coba Glad! Glad, apa arti kemerdekaan buat kamu?” Tanya Bu Vivie sambil
melihat daftar nama absen.
Glad
hanya diam. Bu Vivie pun bingung karena Glad tidak kunjung menjawab
pertanyaannya, lalu….
“Ratuliu
Gladrillia, apa ada peraturan sekolah yang mengijinkan muridnya untuk tidur
pada saat pelajaran?” Bentak Bu Vivie yang sudah tahu mengapa Glad tidak
kunjung menjawab.
Glad
pun terbangun, sambil mengucek matanya. Seisi kelas langsung menatap ke
arahnya.
“Sekarang
ibu mau bertanya, apa arti kemerdekaan buat kamu?!?!” Tanya Bu Vivie tegas.
“Bebas
jadi diri sendiri dan nggak mengulang suatu keburukan. Keburukan yang membawa
petaka!” Jawab Glad kesal.
“Maksud
kamu apa menjawab seperti itu ?” tanya Bu Vivie antara marah dan bingung.
“Ya,
bebas jadi diri kita sendiri! Dan bukan mengulang-ulang tentang kemerdekaan
YANG NGGAK PENTING!!! Seperti ibu saat ini!” Jawab Glad setengah berteriak.
“KAMU
INI TIDAK MENGHARGAI PERJUANGAN PARA PAHLAWAN! Kalau Indonesia tidak merdeka,
kamu tidak bisa enak-enakan tidur di kelas seperti saat ini! Sekarang kamu
KELUAR!!! Dan jangan pernah mengikuti pelajaran saya lagi, MENGERTI?” bentak Bu
Vivie.
“SIAPA
JUGA YANG MAU ADA DI KELAS NGEBOSENIN KAYAK GINI!!!” Teriak Glad sambil
mengambil tasnya, lalu keluar dari kelas tersebut.
Glad
pun kabur dari sekolah. Ia memanjat tembok belakang sekolah yang ada di sebelah
WC cowok. Sesampainya di luar sekolah, Glad pun pergi ke sebuah bangunan
kosong. Di sana, Glad pun memainkan harmonikanya sambil menangis.
‘Kenapa
sih semua orang nggak ada yang mau ngertiin aku? Kenapa sih papa masukin aku ke
sekolah populer yang nggak aku ingini? Kenapa sih mama maksa banget
supaya aku masuk IPA?’ Batin Glad sambil menangis.
Tiba-tiba…..
“Ngapain
kamu disini?” tanya seorang cowok kepada Glad.
‘Ih,
ni cowok rese ngapain sih ada di sini? Pasti disuruh mama mata-matain aku!’
ucap Glad dalam hati.
“BUKAN
URUSAN KAMU! PERGI SANA!” Bentak Glad dengan harapan si cowok tadi pergi.
Tetapi cowok tersebut tidak bergeming mendengar bentakan Glad.
“Kenapa,
masih berargumen kalau seni itu lebih penting dari pelajaran eksak?” tanya
Timotius yang ternyata merupakan kakak kelas sekaligus guru privat Glad.
“Emang
peduli kamu apa?”
“Peduliku?
Heh, ini sudah waktunya buat kamu les. Lagipula ngapain kamu nongkrong disini?
Kamu bolos ya?” Selidik Timotius.
“Jangan
ikut campur urusan aku!” desis Glad tajam.
“Kamu
tuh, selalu aja ngebanggain seni tanpa ada sesuatu yang kamu perbuat?” ujar
Timotius santai.
“Maksud
kamu apa?” tanya Glad, tersinggung.
“Kenapa
kamu nggak coba buktiin kalo seni itu ada?”
***
Lidah Glad
mendadak kelu. Hari ini adalah hari penentuan siapa saja wakil-wakil setiap
kelas yang mengikuti lomba tujuh belasan di sekolah.
“Anak-anak,
untuk lomba membaca puisi, siapa yang ingin mewakili kelas kita?” Tanya Bu
Debbie yang belum mendapatkan wakil lomba baca puisi untuk kelas X.9.
“Saya,
Bu!” ujar Glad dengan lantang.
“Apa
kamu yakin Glad?” Tanya Bu Debbie wali kelas X.9 yang tampak terkejut.
“Saya
yakin Bu! Saya mau menunjukkan ke kalian semua, kalau saya bukanlah yang
seperti kalian bayangkan, yang sama sekali tidak menghargai kemerdekaan, tetapi
saya sangat mengagung-agungkan kemerdekaan dan sedang berusaha mencarinya!”
***
ARTI KEMEDEKAAN
17 Agustus 1945
Para pejuang berhasil memerdekakan Indonesia…
Dengan semangat jiwa yang terus
berkobar,
Indonesia pun merdeka…
Tapi, pada zaman merdeka sperti ini,
Tak pernah kurasakan kebhagiaan
batin,
Paksaan dan siksaan terus mendera
mengiris hati…
Tak pernah kurasakan arti
kemerdekaan.
Oh…
Kenapa kemerdekaan,
Tak dapat kuserap di dalam hati?
Kenapa kemerdekaan,
Tak pernah bisa menebus ruang dalam
kalbuku?
Kenapa kemerdekaan,
Tidak memasuki relung hatiku yang
paling dalam?
Apakah kemerdekaan,
Hanya milik orang lain?
Apakah kemerdekaan,
Hanya terdapat di dalam kamus orang
berkuasa?
Apakah kemerdekaan,
Tidak pernah kugapai?
Ya, aku tahu jawabnya…
Kemerdekaan bagiku,
Bebas untuk menjadi diri sendiri…
Dan tidak dijajah lagi…
Glad
membaca puisi tersebut dengan lantang dan sangat dijiwai. Semua orang bertepuk tangan
dengan heboh. Para juri dan guru-guru pun kaget tak percaya. Dan Timotius pun
tersenyum.
***
Glad
sangat sedih. Sesudah pertemuannya dengan Timotius di gedung kosong beberapa
hari yang lalu, Glad ingin membuktikan bahwa ia bisa menunjukkan ke semua orang
kalau mencintai seni terutama kepada Timotius. Tetapi sudah dua hari ini
Timotius gak keliatan batang hidungnya.
“Dan
Juara I lomba membaca puisi adalah Glad dari X.9!” Ujar pak Kepsek saat mereka
sedang mengadakan upacara bendera yang biasa dilakukan di hari Senen. Beliau
sedang mengumumkan siapa saja yang memenamgkan perlombaan di acara peringatan
HUT kemerdekaan RI kemarin.
Kelas
X.9 pun heboh. Mereka mulai menjabati tangan Glad. Tapi Glad malah menangis.
“Kamu
kenapa Glad?” tanya teman-teman Glad, bingung melihat gadis tersebut menangis.
Glad
malah semakin kencang menangis…
“Dan
para pemenang, akan diberi hadiah secara simbolis yang diwakilkan oleh ketua
OSIS kita, Pangeran Timotius! Ayo beri tepuk tangan meriah!” lanjut Pak Kepsek.
Glad
pun kaget. Ia pun langsung berlari, menerobos kerumunan orang untuk maju ke
depan. Sesampainya di depan, ia memeluk Timotius. Dan Glad pun menangis
sekencang-kencangnya.
“Ratuliu
Gladrillia, putriku yang baik hati, kamu tuh udah menangin hati aku.” Ucap
Timotius lembut sambil membelai pipi Glad.
***


