Pages

Subscribe:

Selasa, 10 Mei 2011

Kematiannya di hari Kematian-MU


Terduduk ku ditengah rerumputan. Hujan gerimis pun seakan menemani seluruh penantianku disini. Kucium bau rerumputan basah, berharap dapat membantu menelan semua kepahitan ini. Tapi aku tahu, semua itu adalah tindakan konyol yang  sama sekali tidak akan membantu. Semuanya sia-sia. Semuanya sudah terlambat. Kumenangisi seluruh keterlambatanku. Dan yang setia menampung seluruh tangisanku adalah tanah yang seakan ikut membisu menyaksikan keterpurukanku bersama orang-orang di sekitarku.
Tangisanku pun akhirnya berhenti ketika suara sirene berkumandang dari kejauhan. Aku mencoba meraih rumput untuk menegakkanku kepada realita yang harus aku terima. Dari kejauahan kumelihat  peti  yang terbuat dari marmer putih nan indah, yang sedang diangkat menuju ke arahku. Tidak, bukan ke arahku. Lebih tepatnya ke arah tanah bebatuan di sampingku, yang sudah terkuak dalam dan lebar.
Mereka pun mulai menurunkan peti mati tadi, ke arah galian tanah di sampingku. Aku hanya melihat hampa, apa yang terjadi di sekitarku.
Pendeta pun berkata sepatah kata tentang kedua orangtuaku. Bagaimana mereka sudah menjalani hidup yang luar biasa. Bagaimana mereka membesarkan anak tunngal mereka. Bagaimana kecelakaan mereka yang bertepatan di hari Jumat Agung, bukanlah akhir segalanya bagiku. Bahwa aku harus menunjukkan ke dunia bahwa aku adalah anak yang hebat hasil didikan kedua orangtuaku.Dan mereka pun mulai menyayikan sebuah lagu.

Mampirlah dengar doaku
Yesus penebus
Orang lain Kau hampiri
Jangan jalan terus
Yesus Yesus dengar doaku
Orang lain Kau hampiri
Jangan jalan terus

Dihadapan tahta rahmat
Aku menyembah
Tunduk dalam penyesalan
Tuhan tolonglah
Yesus Tuhan dengar doaku
Orang lain Kau hampiri
Jangan jalan terus

Kaulah sumber penghiburan
Raja hidupku
Baik dibumi baik disorga
Siapa bandingMu
Yesus Yesus dengar doaku
Orang lain Kau hampiri
Jangan jalan terus
Brilah berkatMu

Aku pun menangis meraung-raung ketika peti mati kedua orangtuaku mulai digali dan ditutupi dengan tanah. Dan aku pun tersadar, aku tidak akan pernah melihat senyuman mereka lagi.

***

Sudah hampir satu tahun aku terkurung di sini. Di rumah tanteku di sebuah desa di Bogor yang jauh dari keramaian. Tante dan Oomku sudah berusaha melakukan berbagai cara agar dapat menyembuhkan mentalku. Entah dengan memanggil pendeta atau psikiater. Tapi semuanya sia-sia belaka. Aku tidak pernah menanggapi mereka.
Oom dan Tanteku mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Precious. Sissy, panggilan akrabnya adalah gadis dengan keterbelakangan mental dan sering sakit. Dia baru bisa membaca dan menulis di usianya yang ke 8. Tetapi Oom dan Tanteku menyayanginya dan tidak pernah sedetik pun membenci Sissy atau menyalahkan Tuhan atas kekurangan anak mereka.
Karena sering sakit dan kekhawatiran Tanteku, akhirnya Sissy tidak sekolah dan sebagai gantinya mereka memanggilkan guru privat untuk mengajarkan Sissy ilmu pengetahuan dasar.
Sissy pun sering mengantarkanku sarapan, setelah itu duduk di hadapanku dan menatapku lama. Seperti orang lain aku pun tidak mengacuhkan keberadaannya. Walaupun aku tidak pernah mengacuhkannya, ia setia datang menghampiriku setiap pagi, tanpa absen satu kalipun. Kadang sesudah menatapku lama, dia mulai celoteh panjang lebar tentang cerita-cerita yang diajarkan oleh guru sekolah minggunya di gereja. Tapi tidak pernah aku pedulikan sama sekali.
Suatu pagi, jam tujuh tepat, Sissy tidak datang mengantarkan sarapanku. Aku pun bernafas lega, terbebas dari tatapan matanya yang tajam.
Aku pun ingin melanjutkan tidurku, tetapi tiba-tiba saja dadaku berdegup keras, dan perasaanku mulai tidak keruan. Aku pun bangun dari tempat tidurku, dan aku menyadari perasaan ini sama seperti sama dengan perasaanku sesaat sebelum orang tuaku ditabrak di depan gereja. Aku pun mulai ketakutan dan mulai mencari Sissy.
Aku pun langsung ke ruang tengah, tempat biasanya ia belajar dengan gurunya, tetapi ruangan itu kosong. Aku pun teringat kalo sudah dua hari ini guru privat Sissy tidak masuk karena sakit. Aku pun bergegas ke arah dapur, tetapi aku hanya melihat bibi yang sedang memasak dan babysitter yang biasa mengurus Sissy sedang sarapan.
Tanpa membuang waktu, aku pun bergegas ke ruang tamu, tapi Sissy pun tidak ada di situ. Ketika hendak menuju tangga untuk mencari di atas, dari jendela kulihat Sissy sedang asyik menulis di teras. Aku pun langsung lega, dan kelegaan itu ternyata hanya sesaat. Tiba-tiba saja angin berhembus kencang dan membuat kertas-kertas itu berterbangan ke segala arah. Sissy pun langsung ke jalan untuk memunguti kertas-kertas yang berserakan di jalan dan tidak menyadari mobil yang sedang melaju kencang ke arahnya. Dan semuanya terjadi dengan cepat.
Aku pun  membisu dan kenangan di hari kematian kedua orangtuaku berdatangan di kepalaku. Kematian mereka di hari Kematian YESUS yang disalib demi menebus dosa-dosa umat manusia. Dan aku pun tersadar selama satu tahun aku sudah membuat hidupku sia-sia. Aku sudah menyusahkan Oom dan Tanteku dan seakan tidak mau melanjutkan hidupku. Aku pun mulai menangis menyesali semuanya dan berlari ke tubuh mungil Sissy yang tergeletak tak berdaya di jalan. Rupanya dia masih sadar, dan memberikanku secarik kertas yang berlumuran darahnya. Di sana terdapat barisan kalimat dengan tulisan acak-acakan khasnya.

Buat Kak Gaby..
Kakak tau gak, di dalam hidup ini banyak orang yang akan berjalan bersama kita..
Tapi posisi mereka gak sama, ada yang berjalan di depan kakak, ada yang di belakang dan ada yang berjalan di samping kakak..
Jika ada orang yang berjalan di depan kakak, berhati-hatilah, karena orang tersebut hanya akan meninggalkan kakak..
Jika ada yang berjalan di belakang kakak, bersedihlah,  karena orang tersebut hanya akan menemani kakak di waktu senang saja..
Tetapi bersyukurlah kalau ada seseorang yang berjalan di samping kakak, karena orang tersebut akan setia mendampingi kakak di saat susah maupun duka..
Dan kakak tau gak, selama ini Sissy selalu berjalan di samping kakak..
Kenapa?
Karena Sissy sayang kakak..






My Guardian Angel ( pernah dilombakan di valentine writing contest oleh nulis buku)

Aku hanya bisa terpaku di dalam kegelapan. Menatap kosong apa saja yang ada di hadapanku. Sesak, hanya itulah yang bisa aku rasakan. Namun, tiada yang peduli dengan rasa sesak ini. Tentu saja, tiada yang peduli. Aku sudah terpuruk di sini , di lembah yang paling kelam ini, tanpa ada yang bisa membantu untuk mengeluarkanku. Aku ingin keluar! Aku ingin menjerit! Aku ingin menangis! Aku ingin keluar dari lembah hitam ini. Namun aku tau, tiada yang bisa membantu, kecuali satu. Ya, secercah cahayalah yang hanya bisa membantuku keluar dari situasi ini. Keluar dari rasa gelap pekat yang sesak, yang sudah kurasakan hampir setahun.

***

Suasana di sini begitu dasar. Begitu membosankan. Begitu monoton. Hitam dan putih. Inilah suasana di sekitarku saat ini. Langit mendung sepertinya ikut membantu suasana kelam ini. Membantu suasana yang sudah buruk makin buruk. Dan rasa kelam yang makin menyengat.
Tapi bukan itulah yang membuat perasaanku tak keruan. Bukan juga kerumunan orang di tempat itu. Dan bukan juga nyanyian lagu gereja yang dikumandangkan yang membuatku sesak . Dialah yang membuatku sesak. Dia yang sudah beristirahat dengan tenang sekarang. Dia yang sudah kembali ke pangkuan BAPA. Dia yang aku cintai.
Aku menatap lama nisan berbentuk salib yang terbuat dari marmer di hadapanku. Tidak untuk mengagumi ukiran dan warna marmer yang putih nan indah. Tapi untuk melihat tulisan yang ada di situ.

ALEXANDER CHRISTIAN
8 November 1984-15 Desember  2010
Love and Forgiveness be with your life.

Ya, biarlah kasih dan pengampunan menyertai hidupmu. Tapi konteksnya tidak akan pernah sesederhana itu. Mungkin, mudah untuk mengasihi tapi tidak untuk memaafkan!  Tidak akan pernah aku bisa mengampuni orang yang sudah merenggut kebahagiaan dariku, walau sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun aku hidup di dunia ini!
***

Aku hanya bisa berjalan di lorong yang gelap. Berjalan dan terus berjalan. Aku lelah, sangat lelah. Tapi aku tau, kalau aku berhenti aku tidak akan bisa bertemu denganmu. Kupacu langkahku dengan cepat, berusaha untuk menggapaimu. Berusaha berpacu dengan detak jantungku, tidak dengan waktu. Karna aku tau waktu yang kumiliki sangat sempit. Aku berjalan cepat, nyaris berlari, begitu ku menyadari ada cahaya terang di ujung lorong. Aku hampir saja bisa mencapainya, kalau tidak ada yang menghempaskanku. Ya, menghempaskanku ke realita pahit yang harus aku terima.

***

Aku tau, seharusnya aku tidak disini, mendekam di kamar yang tirainya sudah tidak kubuka entah berapa waktu lamanya. Aku harusnya di luar sekarang, bekerja atau mengetik sesuatu, karena aku penulis. Tapi aku tau menulis atau bekerja tak akan pernah membantu melenyapkan rasa sesak ini. Seakan-akan sesak ini sudah seperti penyakit yang bercokol di hatiku sekian lama, dan tiada yang bisa mengobati.
Ketukan dan gedoran memecahkan keheningan di sekitarku.
“Vel, lo keluar sekarang! Lo boleh sedih, lo boleh sakit hati, dan lo boleh marah! Tapi lo gak boleh ngancurin hidup lo sendiri. Udah hampir setahun Vel, lo kayak gini. Gue gak mau lo kayak gini terus!”
Aku hanya bisa tersenyum sinis. Lalu aku melangkah dan membuka pintu. Kutatap Lina, sahabatku, dengan ekpresi datar.
            “Mau apa lo disini?” ujarku tanpa ekspresi.
            “Vel, ini ada undangan konfrensi penulis se-Indonesia gitu. Ikut yuk! Siapa tau aja dengan kita ikut konfrensi ini, kita bisa sharing tentang dunia tulis menulis dan dapet ilham baru buat nulis. Lo kan udah lama gak nulis, Vel. Para penggemar buku-buku lo udah pada nunggu karya terbaru dari lo,” dengan semangat 45 Lina mengajakku.
            “Males,” jawabku singkat.
            “Tapi Vel...” ucapan Lina terputus karena bentakanku.
            “BISA GAK SIH LO, SEHARI AJA GAK GANGGUIN GUE. GUE CUMAN MAU SENDIRI. KALAU LO GAK NGERTI JUGA GUE PERJELAS! GU-E LA-GI MA-U SEN-DI-RI!” semprotku dengan penekanan di akhir kalimat.
            Lina rupanya kaget dengan bentakanku. Dia menatapku dengan sedih sambil berlinang air mata. Karena tak tahan dengan air matanya itu, aku setuju untuk mengikuti konfrensi penulis sialan itu, lalu Lina memelukku.

***

            Di dalam perjalanan, perasaanku mulai tidak enak. Ini pertama kalinya aku keluar lagi setelah peristiwa itu. Dan lebih sialnya lagi, ternyata konfrensi itu diadakan selama 3 hari dengan durasi 2 jam. Ughh, membayangkan betapa membosankan tempat itu membuatku mual.
            Aku ke tempat konfrensi itu bersama Lina, sahabatku yang juga penulis. Dia sedang menyetir, membahas buku-buku baru dengan antusias yang aku tanggapi dengan gumaman atau komentar pendek seadanya. Aku harus meladeni obrolannya, minimal menanggapi, kalau tidak mau dikuliahi panjang lebar soal satu tahun yang menurutnya sudah kubuang sia-sia.
            Mobil Lina memasuki parkiran gedung tempat diadakannya konfrensi tersebut. Gedung tersebut rupanya gedung salah satu penerbit yang paling terkemuka di Indonesia. Seusai parkir, kami pun melangkah masuk ke dalam ke gedung tersebut, menuju lantai 5 tempat diadakan konfrensi tersebut.
            Ketika hendak memasuki, lift tiba-tiba Lina menyadari dompetnya tertinggal, “Eh, dompet gue ketinggalan nih. Lo duluan aja deh, udah hampir telat banget nih. Kan gak enak telat rame-rame.”
            Aku pun mengangguk. Lina berlari-lari kecil, menuju pelataran parkiran. Ketika hendak masuk lift, tiba-tiba ada yang menabrakku. Aku pun tersungkur di lantai, sedangkan yang menabrak, jangankan jatuh, oleng pun enggak.
            “Eh, sorry ya. Sorry. Tadi aku gak merhatiin jalan,” cowok itu meminta maaf sambil mengulurkan tangan hendak membantuku berdiri.
            “Kalau kata maaf berharga, gak akan diciptakan neraka,” ujarku dengan nada sinis tanpa memerdulikan tangannya yang sudah terulur.
            Cowok itu bengong karna ucapanku yang sangat pedas itu. Lebih bengong lagi karena tangannya gak disambut. Aku pun masuk lift, tanpa memperdulikan tatapan bengongnya.
***

            Ketika sudah sampai di tempat konfrensi, aku duduk di tempatku. Rupanya di meja sudah disedikan nama-nama penulis yang diundang, jadi kita bisa langsung duduk sesuai dengan nama yang tertera di meja. Meja  tersebut merupakan meja panjang yang disusun melingkar membentuk huruf U. Dan ternyata cowok yang menabrakku duduk tepat di seberangku. Ia menatapku terang-terangan dengan ekspresi jengkel, tapi aku mengacuhkannya.
            “Err, cewek freak!” cetus cowok itu tanpa sadar.
            “Lo ngomong sama siapa Steve?” tanya Dika yang duduk di sebelah  cowo itu.
            “Itu tuh sama makhluk nyebelin di hadapan gue,” ujar sambil menunjukku yang lagi nulis. Aku tidak sadar kalau mereka sedang membicarakan aku.
            “Oh, Vel. Kenapa?Lo kenal?”
            “Enggak. Tapi gue nabrak dia tadi. Gue minta maaf, eh dia malah ngomong kalau maaf itu     kata berharga, gak akan ada neraka. Sebel gue jadinya,” cerita Steve dengan berapi-api.
            “Vel emang kayak gitu semenjak kejadian itu,” Dika menghela nafas.
            “Maksud lo?” Steve bertanya dengan kening berkerut.
            “Ia, waktu itu dia kan udah mau nikah, Steve. Waktu pemberkatan nikah di gereja gue juga diundang, gue kan temenan ama dia pas di SMA. Eh, kita nunggu-nunggu di gereja, tapi Vel sama calon suaminya gak dateng-dateng.”
            “Gak dateng? Kok bisa? Maksud lo berubah pikiran gitu?” tanya Steve makin bingung.
            “Bukan. Dalam perjalanan ke gereja, mereka kecelakaan. Calon suaminya itu meninggal seketika, sedangkan Vel selamet, walau sempet koma hampir sebulan.”
            Steve pun terdiam, lalu menatapku lama. Aku yang sadar ditatapinya, hanya bingung dan memutuskan untuk melemparkan pandangan terganggu kepadanya.

***

            Hari ini adalah hari terakhir konfrensi penulis yang sudah aku hadiri dua hari belakangan. Kali ini Lina gak bisa menjemputku karna ada urusan, jadi aku menyetir sendirian ke tempat ini. Ketika aku sampai, ternyata aku datang terlalu cepat, karena dari jendela aku melihat hanya beberapa orang yang baru datang.
            Ketika hendak masuk ke dalam ruangan , aku terpaku. Tepat di depan pintu masuk, di seberang ruangan, ada sebuah cermin besar. Cermin itu tidak ada di situ sebelumnya. Aku pun masuk lalu mendekati cermin itu, dan mematung. Semua orang memerhatikanku dengan ekspresi heran.
            “Lo kenapa Vel?” tiba-tiba saja Dika sudah ada di dekatku. Aku pun tersenyum sinis.
            “Gue udah lama gak liat kaca,” ujarku pendek.
            “Terus?” tanya Dika semakin hati-hati. Semua orang mulai memperhatikanku dan Dika.
            “Lo tau kenapa gue udah lama gak liat kaca? Karna gue benci liat kaca! Ketika liat kaca gue ngeliat orang yang ngerampas semua kebahagiaan gue. Orang yang ngerebut Alex dari gue! Gue gak bisa maafin orang itu! Dan lebih parahnya orang itu gue! GUE!” teriakku histeris sambil meninju cermin itu dengan tanganku. Semua orang yang ada di ruangan itu langsung terpaku dan merasa iba kepadaku tapi aku tidak peduli.
            “Vel, tangan lo berdarah,” ujar Dika panik sambil memegang tanganku.Tapi aku segera menghempaskan tangannya. Dan aku pun berlari menjauhi kaca itu. Berlari dari ruangan itu. Dan mencoba berlari dari kenyataaan. Pikiranku hanya ada di suatu tempat. Tempatku terakhir dengan Alex, sehari sebelum kecelakaan itu terjadi.
            Dan sekarang disinilah aku. Sebuah Villa yang berada di kawasan puncak, yang aku dan Alex beli bersama-sama. Kami sering berada di sini sewaktu weekend, melepas penat sesudah bekerja di Jakarta yang penuh sesak.
            Villa ini sudah hampir tak terurus, karena sudah satu tahun aku tidak datang kesini. Yang menjaga villa ini hanyalah seorang kakek tua yang tidak mempunyai keluarga yang sudah renta, jadi aku tidak terlalu memusingkan Villa yang sudah agak berdebu ini.
            Aku pun langsung masuk ke kamar yang selalu aku pakai ketika aku menginap di sini. Ketika aku masuk, foto prewedd-ku bersama Alex langsung menyambut.  Aku terpaku. Teringat masa-masa indahku bersama Alex dulu. Sedih maupun senang kita lalui bersama-sama. Aku bahagia bersamanya, tapi ada seseorang yang merebut kebahagiaanku . Dan orang tersebut adalah aku. Kalau saja aku tidak memaksanya ke gereja untuk pemberkatan nikah bersamaku, mungkin hanya aku saja yang mati. Kenapa tidak aku saja yang mati? Kenapa harus Alex?
            Entah berapa kali aku sudah mencoba bunuh diri, tapi selalu berhasil digagalkan oleh siapa saja. Entah Lina, atau kedua orangtuaku. Mungkin aku bisa mencobanya di sini. Di tempat kenanganku bersama Alex. Tanpa ada satu orang pun yang tahu aku  disini.
            Aku meraih gunting di atas meja yang terletak di sudut ruangan. Teringat kenanganku bersama Alex membuatku sesak, dan aku ingin mati. Tidak untuk menyusulnya, karena dia pasti sudah di surga sekarang. Aku hanya ingin menebus kesalahanku padanya. Hanya itu.
            Ketika aku hendak menggoreskan gunting itu ke pergelangan tanganku, tiba-tiba datanglah sebuah sinar yang membuatku membeku.

***

            “Aduh dik, hapenya gak aktif!” ujar Lina sambil memencet-mencet keypad di hapenya. Dika tambah gelisah.
            “Duh, sorry deh lin. Gue tadi udah berusaha ngejer, tapi dia larinya kayak orang kalap gitu, ya gak tekejer deh jadinya!” ujar Dika menyesal. Penulis-penulis lainnya juga cemas.
            “Coba lo inget-inget deh lin tempet yang biasa dia kunjungi, biar kita bisa nyusul ke sana,” ujar Stephanie, salah satu penulis skenario yang cukup beken.
            Belum saja Lina menjawab, tiba-tiba saja semua kerumunan terkejut melihat TV di ruangan itu tiba-tiba menyala. Dan lebih terkejut lagi melihat orang yang ada di tayangan TV tersebut.

***

            Hari ini Steven bangun kesiangan, karena dia tidak tidur semalam mengejar deadline. Jadi dia terburu-buru ke tempat konfrensi penulis tersebut. Keahliannya sebagai pembalap yang terpendam pun diuji.
            Waktu memasuki parkiran di gedung tempat diadakan konfrensi tersebut, ia melihat Vel yang  berlari ke mobilnya sambil menangis.
            “Wah, kenapa tu anak?” ujar Steven  bengong.
            “Eh, ngapain juga gue peduli dengan tuh cewek judes!” lanjut Steve seperti tersadar. Steve pun berusaha tidak peduli. Memfokuskan diri untuk mencari tempat parkir.
            Tapi ketika melihat cara mengemudi Vel yang seperti kesetanan, rasa ketidakpedulian Steve pun sirna.

***

            Sinar itu begitu terang. Tapi bukan itu yang membuatku terpaku. Bukan juga TV yang tiba-tiba hidup itu. Yang membuatku terpaku adalah sosok yang ada di tayangan TV tersebut.
            “Hentikan!” ujar sosok yang berada di TV itu. Suaranya berat dan tajam. Suara yang aku kenali lebih dari siapapun. Gunting di tanganku pun terlepas.
            Sosok itu adalah Alex. Sosok yang aku rindukan. Sosok yang selalu menghiasi mimpi-mimpiku. Sosok yang selama ini masih aku cintai.
            Seperti orang kesetanan, aku mencari remote. Mencoba mengganti ke saluran TV yang lain. Tapi usaha itu sia-sia. Sosok Alex tetap menghiasi tayangan TV. Dia berdiri di suatu ruangan serba putih dan memakai baju berwarna putih. Wajahnya masih sama. Kulitnya yang coklat bersih dengan tatapan mata yang teduh. Aku pun menangis dan jatuh terduduk.
            “Vel..” panggil Alex lembut.
            “Aku kangen banget sama kamu, lex” ujarku lirih nyaris berbisik.
            “Aku tau. Tapi gak harus kayak gini, Vel. Jalan hidup kamu masih panjang. Bunuh diri gak akan nyelesain masalah, sayang. Justru, akan memperparah keadaan.” Ujar Alex sambil menatapku lembut.
            “Aku gak bisa hidup tanpa kamu.”
            “Kamu nggak boleh egois! Kamu gak mikiran gimana perasaan orangtua kamu? Gak mikiran gimana Lina? Mereka selalu mikiran kamu, Vel. Mereka sedih ngeliat kamu kayak gini terus.”
            “Ini gak adil buat aku! Kamu tenang-tenang aja di sana, sementara aku tersiksa di sini!” teriakku histeris.
            “Siapa bilang aku tenang-tenang aja?” ujar Alex, nadanya mulai marah. “Kamu pikir siapa yang cegah kamu cari-cari aku waktu kamu koma di rumah sakit? Siapa yang cegah kamu bunuh diri? Aku gak akan bisa tenang, Vel. Sebelum kamu bahagia.” tatapan mata Alex mulai meredup.
            Tangisku semakin menjadi-jadi.
            “Berbahagialah, Vel. Berbahagialah”
            “Aku gak bisa bahagia tanpa kamu!” ujarku mulai putus asa. Kepalaku tiba-tiba serasa berat.
            “Vel, mungkin Tuhan belum ngijinin kita bahagia bersama. Tapi, dia sudah mengirimkan sesorang buat kamu, Vel. Dia ada di depan mata, tapi kamu gak sadar. Berjanjilah untuk bahagia, Vel.”
            Kepalaku semakin terasa berat dan dunia mulai menggelap. Yang kulihat sebelum semua serasa gelap adalah Steven yang menerjang masuk ke kamar dan meneriakkan namaku.

                                                                             ***
 
            Semenjak kejadian di Villa, saat Steven menolongku yang jatuh pingsan, aku mulai dekat dengannya. Dia jugalah yang menungguku saat aku masuk rumah sakit. Bersama dengan Steven membuatku nyaman, terkadang juga jengkel melihat semua keusilannya.
            Dan sampailah kami di titik hubungan yang serius. Dia melamarku. Awalnya aku ragu, tapi melihat ketulusannya, aku menerimanya.
            Sehari sebelum pernikahan, aku mulai gusar. Pikiranku mulai kacau dan aku mulai gelisah. Ini sudah kedelapan kalinya aku menelpon Steven, padahal sudah larut malam. Aku menelponnya, memastikan dia tidak kemana-mana.
            “Ia Vel-ku sayang. Aku gak kemana-mana. Ini juga lagi di rumah,” tanpa kesal sedikit pun Steven menjawab teleponku.
            “Kamu juga jangan lupa bilang sama supir kamu, besok suruh bawa mobilnya hati-hati. Jangan ngebut! Kalau takut telat, kamu  berangkat dari rumahnya pagi-pagi aja. Besok aku bareng sama papa-mama ke gerejanya.”
            “Ia, ia. Kalau perlu subuh aku udah di gereja. Kalau kamu mau, besok aku jalan kaki deh,” ujar Steven bercanda. Aku merengut.
            “Oke, aku udah turuti semua permintaan kamu. Gak kemana-mana, besok ke gerejanya gak bareng. Sekarang giliran kamu turutin permintaan aku,” pinta Steven lembut.
            “Apa?” tanyaku curiga. Steven orangnya usil jadi terkadang aku was-was dengan permintaannya.
            “Sekarang kamu tidur, jangan lupa mimpiin aku.”
            “Iya, kamu juga langsung tidur. Jangan ngetik-ngetik lagi!” ujarku mengingatkan Steven yang agak work holic.
            “Oke deh darling! Night honey. Sweet dream.”
            “Night.”
            Aku pun mencoba untuk tidur, tapi malah membuatku gelisah. Lalu aku pun berdoa, siapa tau dengan berdoa, aku bisa tenang. Tapi tetap saja aku gelisah. Aku pun memutuskan untuk menelpon Lina.
            “Hallo,” Lina menjawab teleponku dengan nada mengantuk.
            “Lin, gue gelisah banget nih. Gue takut,” ujarku memelas.
            “Vel-ku sayang, jangan negative thinking mulu donk. Lo harus percaya deh, gak akan terjadi apa-apa besok. Mending lo berdoa gih, biar tenang,” Lina mencoba mencari solusi.
            “Udah, lin! Tapi tetep aja gelisah!” ujarku putus asa.
            “Vel, inget janji lo sama Alex. Dia suruh lo bahagia! Sekarang lo coba rilex dan tidur. Bisa-bisa mata lo bengkak kalo lo gak tidur! Lo mau besok pas pernikahan lo, mata lo bengkak?”
            Entah kenapa mendengar nama Alex membuatku tenang dan aku pun tertidur.

***

            Hari ini adalah hari yang terpenting di dalam hidupku. Hari dimana akan ada seseorang yang akan mendampingiku dalam menjalani sisa-sisa hidupku. Tapi tetap saja hari ini membuatku gelisah.
            Aku menelpon Lina, yang sudah sampai di gereja. Dia mengatakan bahwa Steven sudah sampai dengan selamat dan utuh.
            “Lo gak usah khawatir deh, Vel. Dia udah nyampe tuh, baik-baik aja. Sekarang dia yang malah khawatir, celingak-celinguk terus,” ujar Lina geli. Aku pun tersenyum.
            “Lo udah dimana Vel?”
            “Udah deket kok. Tadi yang ngerias datengnya agak terlambat, jadinya gue telat deh.”
            “Ya udah hati-hati ya. Sekarang lo rileks. Gue mau ngerjain Steven dulu. Bilang kalau tukang rias lo gak dateng-dateng. Bye!” Lina cekikan gembira. Senang dengan adanya peluang ngerjain Steven yang usil itu.
            Aku pun tersenyum. Tapi tetap saja masih gelisah. Tak lama kemudian aku pun sampai di gereja. Tapi aku pun diam, tak bereaksi.
            “Vel, udah nyampe sayang,” Papa memberitahu.
            Aku pun keluar dari mobil dengan detak jantung 3 kali lebih cepat dari biasanya. Aku pun melangkah perlahan dan ketika pintu gereja terbuka, langkahku terhenti.
            Aku terdiam bukan terpaku melihat orang-orang yang ada di gereja. Bukan juga melihat Steven yang sedang menunggu di altar.
            Yang membuat langkahku terhenti adalah sosok yang tepat di sebelah Steven. Wajahnya masih sama dan tatapan matanya masih teduh. Ya, dia Alex.
            “Vel?” tegur Papa.
            Aku pun tersadar dan aku melangkah berirama dengan papa menuju altar. Tapi tatapan mataku tetap tertuju pada Alex.
            Ketika sudah sampai di depan altar, tangisku pecah. Teringat kata-kata Alex waktu itu.
            “Aku nggak akan pernah bisa tenang, Vel. Sebelum kamu bahagia.”
            Alex sudah tidak ada di samping Steven lagi. Aku pun berbalik dan aku melihat Alex berjalan ke arah sinar yang terang. Sebelum dia menghilang dia tersenyum padaku.

Ketika kau pergi aku hanya bisa berharap, semoga kasih selalu menerangi jiwa dan ketulusan hati.....

***