Aku
hanya bisa terpaku di dalam kegelapan. Menatap kosong apa saja yang ada di
hadapanku. Sesak, hanya itulah yang bisa aku rasakan. Namun, tiada yang peduli
dengan rasa sesak ini. Tentu saja, tiada yang peduli. Aku sudah terpuruk di sini
, di lembah yang paling kelam ini, tanpa ada yang bisa membantu untuk
mengeluarkanku. Aku ingin keluar! Aku ingin menjerit! Aku ingin menangis! Aku
ingin keluar dari lembah hitam ini. Namun aku tau, tiada yang bisa membantu,
kecuali satu. Ya, secercah cahayalah yang hanya bisa membantuku keluar dari
situasi ini. Keluar dari rasa gelap pekat yang sesak, yang sudah kurasakan
hampir setahun.
***
Suasana
di sini begitu dasar. Begitu membosankan. Begitu monoton. Hitam dan putih.
Inilah suasana di sekitarku saat ini. Langit mendung sepertinya ikut membantu
suasana kelam ini. Membantu suasana yang sudah buruk makin buruk. Dan rasa
kelam yang makin menyengat.
Tapi
bukan itulah yang membuat perasaanku tak keruan. Bukan juga kerumunan orang di
tempat itu. Dan bukan juga nyanyian lagu gereja yang dikumandangkan yang
membuatku sesak . Dialah yang membuatku sesak. Dia yang sudah beristirahat
dengan tenang sekarang. Dia yang sudah kembali ke pangkuan BAPA. Dia yang aku
cintai.
Aku
menatap lama nisan berbentuk salib yang terbuat dari marmer di hadapanku. Tidak
untuk mengagumi ukiran dan warna marmer yang putih nan indah. Tapi untuk
melihat tulisan yang ada di situ.
ALEXANDER CHRISTIAN
8 November 1984-15
Desember 2010
Love and
Forgiveness be with your life.
Ya,
biarlah kasih dan pengampunan menyertai hidupmu. Tapi konteksnya tidak akan
pernah sesederhana itu. Mungkin, mudah untuk mengasihi tapi tidak untuk
memaafkan! Tidak akan pernah aku bisa
mengampuni orang yang sudah merenggut kebahagiaan dariku, walau sudah puluhan
atau bahkan ratusan tahun aku hidup di dunia ini!
***
Aku
hanya bisa berjalan di lorong yang gelap. Berjalan dan terus berjalan. Aku lelah,
sangat lelah. Tapi aku tau, kalau aku berhenti aku tidak akan bisa bertemu
denganmu. Kupacu langkahku dengan cepat, berusaha untuk menggapaimu. Berusaha
berpacu dengan detak jantungku, tidak dengan waktu. Karna aku tau waktu yang
kumiliki sangat sempit. Aku berjalan cepat, nyaris berlari, begitu ku menyadari
ada cahaya terang di ujung lorong. Aku hampir saja bisa mencapainya, kalau tidak
ada yang menghempaskanku. Ya, menghempaskanku ke realita pahit yang harus aku
terima.
***
Aku
tau, seharusnya aku tidak disini, mendekam di kamar yang tirainya sudah tidak
kubuka entah berapa waktu lamanya. Aku harusnya di luar sekarang, bekerja atau
mengetik sesuatu, karena aku penulis. Tapi aku tau menulis atau bekerja tak
akan pernah membantu melenyapkan rasa sesak ini. Seakan-akan sesak ini sudah
seperti penyakit yang bercokol di hatiku sekian lama, dan tiada yang bisa
mengobati.
Ketukan
dan gedoran memecahkan keheningan di sekitarku.
“Vel,
lo keluar sekarang! Lo boleh sedih, lo boleh sakit hati, dan lo boleh marah!
Tapi lo gak boleh ngancurin hidup lo sendiri. Udah hampir setahun Vel, lo kayak
gini. Gue gak mau lo kayak gini terus!”
Aku
hanya bisa tersenyum sinis. Lalu aku melangkah dan membuka pintu. Kutatap Lina,
sahabatku, dengan ekpresi datar.
“Mau apa lo disini?” ujarku tanpa ekspresi.
“Vel, ini ada undangan konfrensi
penulis se-Indonesia gitu. Ikut yuk! Siapa tau aja dengan kita ikut konfrensi ini,
kita bisa sharing tentang dunia tulis menulis dan dapet ilham baru buat nulis.
Lo kan udah lama gak nulis, Vel. Para penggemar buku-buku lo udah pada nunggu
karya terbaru dari lo,” dengan semangat 45 Lina mengajakku.
“Males,” jawabku singkat.
“Tapi Vel...” ucapan Lina terputus
karena bentakanku.
“BISA GAK SIH LO, SEHARI AJA GAK
GANGGUIN GUE. GUE CUMAN MAU SENDIRI. KALAU LO GAK NGERTI JUGA GUE PERJELAS!
GU-E LA-GI MA-U SEN-DI-RI!” semprotku dengan penekanan di akhir kalimat.
Lina rupanya kaget dengan
bentakanku. Dia menatapku dengan sedih sambil berlinang air mata. Karena tak
tahan dengan air matanya itu, aku setuju untuk mengikuti konfrensi penulis
sialan itu, lalu Lina memelukku.
***
Di dalam perjalanan, perasaanku
mulai tidak enak. Ini pertama kalinya aku keluar lagi setelah peristiwa itu.
Dan lebih sialnya lagi, ternyata konfrensi itu diadakan selama 3 hari dengan
durasi 2 jam. Ughh, membayangkan betapa membosankan tempat itu membuatku mual.
Aku ke tempat konfrensi itu bersama
Lina, sahabatku yang juga penulis. Dia sedang menyetir, membahas buku-buku baru
dengan antusias yang aku tanggapi dengan gumaman atau komentar pendek seadanya.
Aku harus meladeni obrolannya, minimal menanggapi, kalau tidak mau dikuliahi
panjang lebar soal satu tahun yang menurutnya sudah kubuang sia-sia.
Mobil Lina memasuki parkiran gedung
tempat diadakannya konfrensi tersebut. Gedung tersebut rupanya gedung salah
satu penerbit yang paling terkemuka di Indonesia. Seusai parkir, kami pun
melangkah masuk ke dalam ke gedung tersebut, menuju lantai 5 tempat diadakan
konfrensi tersebut.
Ketika hendak memasuki, lift
tiba-tiba Lina menyadari dompetnya tertinggal, “Eh, dompet gue ketinggalan nih.
Lo duluan aja deh, udah hampir telat banget nih. Kan gak enak telat rame-rame.”
Aku pun mengangguk. Lina berlari-lari
kecil, menuju pelataran parkiran. Ketika hendak masuk lift, tiba-tiba ada yang
menabrakku. Aku pun tersungkur di lantai, sedangkan yang menabrak, jangankan
jatuh, oleng pun enggak.
“Eh, sorry ya. Sorry. Tadi aku gak
merhatiin jalan,” cowok itu meminta maaf sambil mengulurkan tangan hendak
membantuku berdiri.
“Kalau kata maaf berharga, gak akan
diciptakan neraka,” ujarku dengan nada sinis tanpa memerdulikan tangannya yang
sudah terulur.
Cowok itu bengong karna ucapanku
yang sangat pedas itu. Lebih bengong lagi karena tangannya gak disambut. Aku
pun masuk lift, tanpa memperdulikan tatapan bengongnya.
***
Ketika sudah sampai di tempat
konfrensi, aku duduk di tempatku. Rupanya di meja sudah disedikan nama-nama
penulis yang diundang, jadi kita bisa langsung duduk sesuai dengan nama yang
tertera di meja. Meja tersebut merupakan
meja panjang yang disusun melingkar membentuk huruf U. Dan ternyata cowok yang
menabrakku duduk tepat di seberangku. Ia menatapku terang-terangan dengan
ekspresi jengkel, tapi aku mengacuhkannya.
“Err, cewek freak!” cetus cowok itu
tanpa sadar.
“Lo ngomong sama siapa Steve?” tanya
Dika yang duduk di sebelah cowo itu.
“Itu tuh sama makhluk nyebelin di
hadapan gue,” ujar sambil menunjukku yang lagi nulis. Aku tidak sadar kalau
mereka sedang membicarakan aku.
“Oh, Vel. Kenapa?Lo kenal?”
“Enggak. Tapi gue nabrak dia tadi.
Gue minta maaf, eh dia malah ngomong kalau maaf itu kata berharga, gak akan ada neraka. Sebel
gue jadinya,” cerita Steve dengan berapi-api.
“Vel emang kayak gitu semenjak
kejadian itu,” Dika menghela nafas.
“Maksud lo?” Steve bertanya dengan
kening berkerut.
“Ia, waktu itu dia kan udah mau nikah,
Steve. Waktu pemberkatan nikah di gereja gue juga diundang, gue kan temenan ama
dia pas di SMA. Eh, kita nunggu-nunggu di gereja, tapi Vel sama calon suaminya
gak dateng-dateng.”
“Gak dateng? Kok bisa? Maksud lo berubah
pikiran gitu?” tanya Steve makin bingung.
“Bukan. Dalam perjalanan ke gereja,
mereka kecelakaan. Calon suaminya itu meninggal seketika, sedangkan Vel
selamet, walau sempet koma hampir sebulan.”
Steve pun terdiam, lalu menatapku
lama. Aku yang sadar ditatapinya, hanya bingung dan memutuskan untuk
melemparkan pandangan terganggu kepadanya.
***
Hari ini adalah hari terakhir
konfrensi penulis yang sudah aku hadiri dua hari belakangan. Kali ini Lina gak
bisa menjemputku karna ada urusan, jadi aku menyetir sendirian ke tempat ini.
Ketika aku sampai, ternyata aku datang terlalu cepat, karena dari jendela aku
melihat hanya beberapa orang yang baru datang.
Ketika hendak masuk ke dalam ruangan
, aku terpaku. Tepat di depan pintu masuk, di seberang ruangan, ada sebuah
cermin besar. Cermin itu tidak ada di situ sebelumnya. Aku pun masuk lalu
mendekati cermin itu, dan mematung. Semua orang memerhatikanku dengan ekspresi
heran.
“Lo kenapa Vel?” tiba-tiba saja Dika
sudah ada di dekatku. Aku pun tersenyum sinis.
“Gue udah lama gak liat kaca,”
ujarku pendek.
“Terus?” tanya Dika semakin
hati-hati. Semua orang mulai memperhatikanku dan Dika.
“Lo tau kenapa gue udah lama gak
liat kaca? Karna gue benci liat kaca! Ketika liat kaca gue ngeliat orang yang
ngerampas semua kebahagiaan gue. Orang yang ngerebut Alex dari gue! Gue gak
bisa maafin orang itu! Dan lebih parahnya orang itu gue! GUE!” teriakku
histeris sambil meninju cermin itu dengan tanganku. Semua orang yang ada di
ruangan itu langsung terpaku dan merasa iba kepadaku tapi aku tidak peduli.
“Vel, tangan lo berdarah,” ujar Dika
panik sambil memegang tanganku.Tapi aku segera menghempaskan tangannya. Dan aku
pun berlari menjauhi kaca itu. Berlari dari ruangan itu. Dan mencoba berlari
dari kenyataaan. Pikiranku hanya ada di suatu tempat. Tempatku terakhir dengan
Alex, sehari sebelum kecelakaan itu terjadi.
Dan sekarang disinilah aku. Sebuah
Villa yang berada di kawasan puncak, yang aku dan Alex beli bersama-sama. Kami
sering berada di sini sewaktu weekend, melepas penat sesudah bekerja di Jakarta
yang penuh sesak.
Villa ini sudah hampir tak terurus,
karena sudah satu tahun aku tidak datang kesini. Yang menjaga villa ini
hanyalah seorang kakek tua yang tidak mempunyai keluarga yang sudah renta, jadi
aku tidak terlalu memusingkan Villa yang sudah agak berdebu ini.
Aku pun langsung masuk ke kamar yang
selalu aku pakai ketika aku menginap di sini. Ketika aku masuk, foto prewedd-ku
bersama Alex langsung menyambut. Aku
terpaku. Teringat masa-masa indahku bersama Alex dulu. Sedih maupun senang kita
lalui bersama-sama. Aku bahagia bersamanya, tapi ada seseorang yang merebut
kebahagiaanku . Dan orang tersebut adalah aku. Kalau saja aku tidak memaksanya
ke gereja untuk pemberkatan nikah bersamaku, mungkin hanya aku saja yang mati.
Kenapa tidak aku saja yang mati? Kenapa harus Alex?
Entah berapa kali aku sudah mencoba
bunuh diri, tapi selalu berhasil digagalkan oleh siapa saja. Entah Lina, atau
kedua orangtuaku. Mungkin aku bisa mencobanya di sini. Di tempat kenanganku
bersama Alex. Tanpa ada satu orang pun yang tahu aku disini.
Aku meraih gunting di atas meja yang
terletak di sudut ruangan. Teringat kenanganku bersama Alex membuatku sesak,
dan aku ingin mati. Tidak untuk menyusulnya, karena dia pasti sudah di surga
sekarang. Aku hanya ingin menebus kesalahanku padanya. Hanya itu.
Ketika aku hendak menggoreskan
gunting itu ke pergelangan tanganku, tiba-tiba datanglah sebuah sinar yang
membuatku membeku.
***
“Aduh
dik, hapenya gak aktif!” ujar Lina sambil memencet-mencet keypad di hapenya.
Dika tambah gelisah.
“Duh, sorry deh lin. Gue tadi udah
berusaha ngejer, tapi dia larinya kayak orang kalap gitu, ya gak tekejer deh
jadinya!” ujar Dika menyesal. Penulis-penulis lainnya juga cemas.
“Coba lo inget-inget deh lin tempet
yang biasa dia kunjungi, biar kita bisa nyusul ke sana,” ujar Stephanie, salah
satu penulis skenario yang cukup beken.
Belum saja Lina menjawab, tiba-tiba
saja semua kerumunan terkejut melihat TV di ruangan itu tiba-tiba menyala. Dan
lebih terkejut lagi melihat orang yang ada di tayangan TV tersebut.
***
Hari ini Steven bangun kesiangan,
karena dia tidak tidur semalam mengejar deadline. Jadi dia terburu-buru ke
tempat konfrensi penulis tersebut. Keahliannya sebagai pembalap yang terpendam
pun diuji.
Waktu memasuki parkiran di gedung
tempat diadakan konfrensi tersebut, ia melihat Vel yang berlari ke mobilnya sambil menangis.
“Wah, kenapa tu anak?” ujar
Steven bengong.
“Eh, ngapain juga gue peduli dengan
tuh cewek judes!” lanjut Steve seperti tersadar. Steve pun berusaha tidak
peduli. Memfokuskan diri untuk mencari tempat parkir.
Tapi ketika melihat cara mengemudi
Vel yang seperti kesetanan, rasa ketidakpedulian Steve pun sirna.
***
Sinar itu begitu terang. Tapi bukan
itu yang membuatku terpaku. Bukan juga TV yang tiba-tiba hidup itu. Yang
membuatku terpaku adalah sosok yang ada di tayangan TV tersebut.
“Hentikan!” ujar sosok yang berada
di TV itu. Suaranya berat dan tajam. Suara yang aku kenali lebih dari siapapun.
Gunting di tanganku pun terlepas.
Sosok itu adalah Alex. Sosok yang
aku rindukan. Sosok yang selalu menghiasi mimpi-mimpiku. Sosok yang selama ini
masih aku cintai.
Seperti orang kesetanan, aku mencari
remote. Mencoba mengganti ke saluran TV yang lain. Tapi usaha itu sia-sia.
Sosok Alex tetap menghiasi tayangan TV. Dia berdiri di suatu ruangan serba
putih dan memakai baju berwarna putih. Wajahnya masih sama. Kulitnya yang
coklat bersih dengan tatapan mata yang teduh. Aku pun menangis dan jatuh
terduduk.
“Vel..” panggil Alex lembut.
“Aku kangen banget sama kamu, lex”
ujarku lirih nyaris berbisik.
“Aku tau. Tapi gak harus kayak gini,
Vel. Jalan hidup kamu masih panjang. Bunuh diri gak akan nyelesain masalah,
sayang. Justru, akan memperparah keadaan.” Ujar Alex sambil menatapku lembut.
“Aku gak bisa hidup tanpa kamu.”
“Kamu nggak boleh egois! Kamu gak
mikiran gimana perasaan orangtua kamu? Gak mikiran gimana Lina? Mereka selalu
mikiran kamu, Vel. Mereka sedih ngeliat kamu kayak gini terus.”
“Ini gak adil buat aku! Kamu tenang-tenang
aja di sana, sementara aku tersiksa di sini!” teriakku histeris.
“Siapa bilang aku tenang-tenang
aja?” ujar Alex, nadanya mulai marah. “Kamu pikir siapa yang cegah kamu
cari-cari aku waktu kamu koma di rumah sakit? Siapa yang cegah kamu bunuh diri?
Aku gak akan bisa tenang, Vel. Sebelum kamu bahagia.” tatapan mata Alex mulai
meredup.
Tangisku semakin menjadi-jadi.
“Berbahagialah, Vel. Berbahagialah”
“Aku gak bisa bahagia tanpa kamu!”
ujarku mulai putus asa. Kepalaku tiba-tiba serasa berat.
“Vel, mungkin Tuhan belum ngijinin
kita bahagia bersama. Tapi, dia sudah mengirimkan sesorang buat kamu, Vel. Dia
ada di depan mata, tapi kamu gak sadar. Berjanjilah untuk bahagia, Vel.”
Kepalaku semakin terasa berat dan
dunia mulai menggelap. Yang kulihat sebelum semua serasa gelap adalah Steven
yang menerjang masuk ke kamar dan meneriakkan namaku.
***
Semenjak kejadian di Villa, saat
Steven menolongku yang jatuh pingsan, aku mulai dekat dengannya. Dia jugalah
yang menungguku saat aku masuk rumah sakit. Bersama dengan Steven membuatku
nyaman, terkadang juga jengkel melihat semua keusilannya.
Dan sampailah kami di titik hubungan
yang serius. Dia melamarku. Awalnya aku ragu, tapi melihat ketulusannya, aku
menerimanya.
Sehari sebelum pernikahan, aku mulai
gusar. Pikiranku mulai kacau dan aku mulai gelisah. Ini sudah kedelapan kalinya
aku menelpon Steven, padahal sudah larut malam. Aku menelponnya, memastikan dia
tidak kemana-mana.
“Ia Vel-ku sayang. Aku gak
kemana-mana. Ini juga lagi di rumah,” tanpa kesal sedikit pun Steven menjawab
teleponku.
“Kamu juga jangan lupa bilang sama
supir kamu, besok suruh bawa mobilnya hati-hati. Jangan ngebut! Kalau takut
telat, kamu berangkat dari rumahnya
pagi-pagi aja. Besok aku bareng sama papa-mama ke gerejanya.”
“Ia, ia. Kalau perlu subuh aku udah
di gereja. Kalau kamu mau, besok aku jalan kaki deh,” ujar Steven bercanda. Aku
merengut.
“Oke, aku udah turuti semua
permintaan kamu. Gak kemana-mana, besok ke gerejanya gak bareng. Sekarang
giliran kamu turutin permintaan aku,” pinta Steven lembut.
“Apa?” tanyaku curiga. Steven
orangnya usil jadi terkadang aku was-was dengan permintaannya.
“Sekarang kamu tidur, jangan lupa
mimpiin aku.”
“Iya, kamu juga langsung tidur.
Jangan ngetik-ngetik lagi!” ujarku mengingatkan Steven yang agak work holic.
“Oke deh darling! Night honey. Sweet
dream.”
“Night.”
Aku pun mencoba untuk tidur, tapi
malah membuatku gelisah. Lalu aku pun berdoa, siapa tau dengan berdoa, aku bisa
tenang. Tapi tetap saja aku gelisah. Aku pun memutuskan untuk menelpon Lina.
“Hallo,” Lina menjawab teleponku
dengan nada mengantuk.
“Lin, gue gelisah banget nih. Gue
takut,” ujarku memelas.
“Vel-ku sayang, jangan negative
thinking mulu donk. Lo harus percaya deh, gak akan terjadi apa-apa besok.
Mending lo berdoa gih, biar tenang,” Lina mencoba mencari solusi.
“Udah, lin! Tapi tetep aja gelisah!”
ujarku putus asa.
“Vel, inget janji lo sama Alex. Dia
suruh lo bahagia! Sekarang lo coba rilex dan tidur. Bisa-bisa mata lo bengkak
kalo lo gak tidur! Lo mau besok pas pernikahan lo, mata lo bengkak?”
Entah kenapa mendengar nama Alex
membuatku tenang dan aku pun tertidur.
***
Hari ini adalah hari yang terpenting
di dalam hidupku. Hari dimana akan ada seseorang yang akan mendampingiku dalam
menjalani sisa-sisa hidupku. Tapi tetap saja hari ini membuatku gelisah.
Aku menelpon Lina, yang sudah sampai
di gereja. Dia mengatakan bahwa Steven sudah sampai dengan selamat dan utuh.
“Lo gak usah khawatir deh, Vel. Dia
udah nyampe tuh, baik-baik aja. Sekarang dia yang malah khawatir,
celingak-celinguk terus,” ujar Lina geli. Aku pun tersenyum.
“Lo udah dimana Vel?”
“Udah deket kok. Tadi yang ngerias
datengnya agak terlambat, jadinya gue telat deh.”
“Ya udah hati-hati ya. Sekarang lo
rileks. Gue mau ngerjain Steven dulu. Bilang kalau tukang rias lo gak dateng-dateng.
Bye!” Lina cekikan gembira. Senang dengan adanya peluang ngerjain Steven yang
usil itu.
Aku pun tersenyum. Tapi tetap saja
masih gelisah. Tak lama kemudian aku pun sampai di gereja. Tapi aku pun diam,
tak bereaksi.
“Vel, udah nyampe sayang,” Papa memberitahu.
Aku pun keluar dari mobil dengan
detak jantung 3 kali lebih cepat dari biasanya. Aku pun melangkah perlahan dan
ketika pintu gereja terbuka, langkahku terhenti.
Aku terdiam bukan terpaku melihat
orang-orang yang ada di gereja. Bukan juga melihat Steven yang sedang menunggu
di altar.
Yang membuat langkahku terhenti
adalah sosok yang tepat di sebelah Steven. Wajahnya masih sama dan tatapan
matanya masih teduh. Ya, dia Alex.
“Vel?” tegur Papa.
Aku pun tersadar dan aku melangkah
berirama dengan papa menuju altar. Tapi tatapan mataku tetap tertuju pada Alex.
Ketika sudah sampai di depan altar,
tangisku pecah. Teringat kata-kata Alex waktu itu.
“Aku
nggak akan pernah bisa tenang, Vel. Sebelum kamu bahagia.”
Alex sudah tidak ada di samping
Steven lagi. Aku pun berbalik dan aku melihat Alex berjalan ke arah sinar yang
terang. Sebelum dia menghilang dia tersenyum padaku.
Ketika kau pergi aku hanya bisa berharap, semoga kasih selalu menerangi
jiwa dan ketulusan hati.....
***