Dulu
saya adalah pemuda yang tampan. Pewaris tunggal Gemintang Group. Tiada gadis
yang mampu menolak pesonaku. Tiada yang bisa mengalahkan kekayaan saya. Tetapi
itu semua hanya masa lalu.
Natal tahun lalu telah merebut
segalanya. Saya dan keluarga saya mengalami kecelakaan. Saya selamat tetapi
orang tua saya meninggal. Dan dengan serakahnya keluarga paman saya mengambil
alih kekayaan kedua orangtua saya dan mendepak saya dari rumah.
Tinggallah saya sekarang di sini, di
pinggir jalan dengan ketulian saya. Sekarang sudah memasuki bulan Desember.
Ketika saya sedang melamun, tiba-tiba ada yang menepuk pundak saya. Ternyata
seorang gadis.
Gadis tersebut sangat manis. Dia
sedang membawa sebuah kotak hitam yang mungkin isinya adalah sebuah alat musik
dan sepertinya sedang berbicara dengan saya. Cepat-cepat saya merobek kertas di
salah satu buku usang yang saya miliki, lalu menulis, "Maaf saya
tuli."
Gadis itu terpana membaca tulisan
saya tersebut. Lalu ia pun menulis di bawah tulisan saya di kertas yangs saya
robek tadi. Setelah ia selesai menulis, ia memberikan kertas tersebut kepada
saya lalu pergi. Ternyata ia menulis sebuah puisi.
Jika kau tak punya kaki , jangan takut...
karna pasti ada seseorang yang memberikan langkahnya kepadamu...
Jika kau tak punya mata , jangan takut...
karna pasti ada seseorang yg memberikan warna hidupnya untukmu...
Jika kau tak punya bibir , jangan takut...
Jika kau tak punya bibir , jangan takut...
karna pasti ada seseorang yg membisikkan kata-kata indah untuk
ketenangan batinmu....
Dan jika kau tak punya telinga , jangan takut...
Dan jika kau tak punya telinga , jangan takut...
karna pasti ada seseorang yg menunjukkan bahasa yg lebih indah
kepadamu..
Tapi takutlah jika kau tak punya hati ! Karna tanpa hati hidup kita tak berarti...
Dan jangan biarkan egois menguasai hatimu ! karna akan membuat hati kita mati...
Karna cinta tidak egois , dia akan selalu memberikan kesempatan kedua kepadamu......
Tapi takutlah jika kau tak punya hati ! Karna tanpa hati hidup kita tak berarti...
Dan jangan biarkan egois menguasai hatimu ! karna akan membuat hati kita mati...
Karna cinta tidak egois , dia akan selalu memberikan kesempatan kedua kepadamu......
Saya hanya bisa terpana membaca
puisi tersebut. Ketika saya menoleh ke arah sebuah gereja, saya melihat si
gadis terompet sedang berdiri di depan gereja lalu melambaikan tangan. Ternyata
dia akan latihan bermain terompet untuk sebuah acara natal di gereja tersebut.
Seminggu telah berlalu. Natal semakin dekat dan si gadis
terompet sering mengunjungiku sebelum dia latihan di gereja. Dia sering
menemaniku ngobrol tentu saja lewat secarik kertas kalau tidak dia bermain
sulap untukku. Dia gadis yang sangat periang. Dan tanpa saya sadari cinta itu
pun tumbuh...
"Kau tidak latihan?", saya bertanya sambil
menoleh ke arah teman-temannya yang sudah berkumpul di depan gereja sambil
membawa terompet.
"Nanti saja.", tulisnya.
Setelah ia menyelesaikan sulapnya,
ia berlari menyeberang dan hendak membeli sebuah gulali yang kiosnya terletak
di seberang jalan. Ketika berada di tengah jalan raya, tiba-tiba dari arah
berlawanan, ada sebuah truk yang melaju cepat ke arah si gadis terompet.
Menyadari gadis itu akan ditabrak, saya pun berlari dan mendorong gadis
tersebut. Badan saya terhempas ke tanah dan saya pun terbaring beralaskan
darah. Ketika saya sudah setengah sadar, saya bisa mendengar alunan trompet
dari gereja si gadis terompet. Mereka memainkan lagu tersebut dengan syahdu.
Rupanya lagu tersebut adalah lagu The First Noel. Lagu yang saya dan kedua
orangtua saya dengarkan di mobil sebelum kcelakaan naas tersebut terjadi. Dan
saya pun menangis.
The first noel the
angels did say
Was to certain poor
shepherds in fields as they lay;
In fields where they
lay keeping their sheep
On a cold winter’s
night that was so deep.
Cho: noel, noel
Noel,noel
Born is the king of
israel.
They looked up and saw
a star
Shining in the east,
beyond them far,
And to the earth it
gave great light,
And so it continued,
both day and night.
And by the light of
that same star
Three wise men came
from country far,
To seek for a king was
their intent,
And to follow the star
whereever it went.
This star drew nigh to
the northwest;
O’er bethlehem it took
it’s rest.
And there it did both
stop and stay,
Right over the place
whcre jesus lay.
Then they did know
assuredly
Within that house, the
king did lie
One entered in then for
to see
And found the babe in
poverty.
Then entered in those
wise men three,
Full reverently, upon
bended knee,
And offered there, in
his presence,
Their gold and myrrh
and frankincense.
If we in our time do
well
We shall be free from
death and hell
For God hath prepared
for us all
A resting place in
general.
Gadis tersebut berlari ke arahku
sambil menangis. Dan sebelum saya kehilangan seluruh kesadaran saya, saya dapat
mendengar dia berkata, "aku mencintaimu."
***
Saya duduk termenung di teras rumah
sakit sendirian. Sebentar lagi saya akan pulang dari rumah sakit. Tiba-tiba ada
yang memeluk saya dari belakang. Dan orang tersebut berkata, "Sayang kok
duduk di sini sih? Dingin lho."
Saya pun hanya tersenyum mendengar
perkataan tersebut, lalu berbalik untuk menciumnya. Ya, dialah si gadis
terompet. Walaupun saya divonis lumpuh permanen, tetapi saya bersyukur karena
Tuhan telah mengaruniakan saya telinga yang dapat berfungsi kembali dan dapat
mendengarkan alunan terompet yang dimainkan oleh gadis yang saya cintai.


