Pages

Subscribe:

Kamis, 14 Oktober 2010

Story for disabled people part 4

Dulu saya adalah pemuda yang tampan. Pewaris tunggal Gemintang Group. Tiada gadis yang mampu menolak pesonaku. Tiada yang bisa mengalahkan kekayaan saya. Tetapi itu semua hanya masa lalu.
            Natal tahun lalu telah merebut segalanya. Saya dan keluarga saya mengalami kecelakaan. Saya selamat tetapi orang tua saya meninggal. Dan dengan serakahnya keluarga paman saya mengambil alih kekayaan kedua orangtua saya dan mendepak saya dari rumah.
            Tinggallah saya sekarang di sini, di pinggir jalan dengan ketulian saya. Sekarang sudah memasuki bulan Desember. Ketika saya sedang melamun, tiba-tiba ada yang menepuk pundak saya. Ternyata seorang gadis.
            Gadis tersebut sangat manis. Dia sedang membawa sebuah kotak hitam yang mungkin isinya adalah sebuah alat musik dan sepertinya sedang berbicara dengan saya. Cepat-cepat saya merobek kertas di salah satu buku usang yang saya miliki, lalu menulis, "Maaf saya tuli."
            Gadis itu terpana membaca tulisan saya tersebut. Lalu ia pun menulis di bawah tulisan saya di kertas yangs saya robek tadi. Setelah ia selesai menulis, ia memberikan kertas tersebut kepada saya lalu pergi. Ternyata ia menulis sebuah puisi.

Jika kau tak punya kaki , jangan takut...
karna pasti ada seseorang yang memberikan langkahnya kepadamu...

Jika kau tak punya mata , jangan takut...
karna pasti ada seseorang yg memberikan warna hidupnya untukmu...

Jika kau tak punya bibir , jangan takut...
karna pasti ada seseorang yg membisikkan kata-kata indah untuk ketenangan batinmu....

Dan jika kau tak punya telinga , jangan takut...
karna pasti ada seseorang yg menunjukkan bahasa yg lebih indah kepadamu..

Tapi takutlah jika kau tak punya hati ! Karna tanpa hati hidup kita tak berarti...

Dan jangan biarkan egois menguasai hatimu ! karna akan membuat hati kita mati...

Karna cinta tidak egois , dia akan selalu memberikan kesempatan kedua kepadamu......

            Saya hanya bisa terpana membaca puisi tersebut. Ketika saya menoleh ke arah sebuah gereja, saya melihat si gadis terompet sedang berdiri di depan gereja lalu melambaikan tangan. Ternyata dia akan latihan bermain terompet untuk sebuah acara natal di gereja tersebut.
            Seminggu telah berlalu. Natal semakin dekat dan si gadis terompet sering mengunjungiku sebelum dia latihan di gereja. Dia sering menemaniku ngobrol tentu saja lewat secarik kertas kalau tidak dia bermain sulap untukku. Dia gadis yang sangat periang. Dan tanpa saya sadari cinta itu pun tumbuh...
            "Kau tidak latihan?", saya bertanya sambil menoleh ke arah teman-temannya yang sudah berkumpul di depan gereja sambil membawa terompet.
            "Nanti saja.", tulisnya.
            Setelah ia menyelesaikan sulapnya, ia berlari menyeberang dan hendak membeli sebuah gulali yang kiosnya terletak di seberang jalan. Ketika berada di tengah jalan raya, tiba-tiba dari arah berlawanan, ada sebuah truk yang melaju cepat ke arah si gadis terompet. Menyadari gadis itu akan ditabrak, saya pun berlari dan mendorong gadis tersebut. Badan saya terhempas ke tanah dan saya pun terbaring beralaskan darah. Ketika saya sudah setengah sadar, saya bisa mendengar alunan trompet dari gereja si gadis terompet. Mereka memainkan lagu tersebut dengan syahdu. Rupanya lagu tersebut adalah lagu The First Noel. Lagu yang saya dan kedua orangtua saya dengarkan di mobil sebelum kcelakaan naas tersebut terjadi. Dan saya pun menangis.

The first noel the angels did say
Was to certain poor shepherds in fields as they lay;
In fields where they lay keeping their sheep
On a cold winter’s night that was so deep.

Cho: noel, noel
Noel,noel
Born is the king of israel.

They looked up and saw a star
Shining in the east, beyond them far,
And to the earth it gave great light,
And so it continued, both day and night.

And by the light of that same star
Three wise men came from country far,
To seek for a king was their intent,
And to follow the star whereever it went.

This star drew nigh to the northwest;
O’er bethlehem it took it’s rest.
And there it did both stop and stay,
Right over the place whcre jesus lay.

Then they did know assuredly
Within that house, the king did lie
One entered in then for to see
And found the babe in poverty.

Then entered in those wise men three,
Full reverently, upon bended knee,
And offered there, in his presence,
Their gold and myrrh and frankincense.

If we in our time do well
We shall be free from death and hell
For God hath prepared for us all
A resting place in general.

            Gadis tersebut berlari ke arahku sambil menangis. Dan sebelum saya kehilangan seluruh kesadaran saya, saya dapat mendengar dia berkata, "aku mencintaimu."

***

            Saya duduk termenung di teras rumah sakit sendirian. Sebentar lagi saya akan pulang dari rumah sakit. Tiba-tiba ada yang memeluk saya dari belakang. Dan orang tersebut berkata, "Sayang kok duduk di sini sih? Dingin lho."
            Saya pun hanya tersenyum mendengar perkataan tersebut, lalu berbalik untuk menciumnya. Ya, dialah si gadis terompet. Walaupun saya divonis lumpuh permanen, tetapi saya bersyukur karena Tuhan telah mengaruniakan saya telinga yang dapat berfungsi kembali dan dapat mendengarkan alunan terompet yang dimainkan oleh gadis yang saya cintai.

1 komentar:

Ms. Garfield mengatakan...

mano ado wong sebaek ituu =="
=D
td kukiro part 1, 2 dst nyambung
hehehe