Aku adalah seorang gadis berusia 16
tahun. Aku sudah menyukai dia cukup lama dari aku duduk di bangku SMP.
Senyumnya yang manis dan kata-katanya yang memikat membuatku merasa terbang ke
langit ketujuh.
Namanya Kevin. Dia lebih tua empat
tahun dariku. Dia suka sekali bercanda dan ramah terhadap orang lain, baik yang
kenal maupun tidak. Dia orangnya mudah akrab dengan orang lain. Tapi entah
kenapa dia tak pernah bisa akrab denganku.
Lima tahun sudah aku menyukainya.
Aku hanya bisa melihat senyumannya tanpa bisa memilikinya. Tapi aku selalu
yakin dia adalah belahan jiwaku yang hilang. Matanya yang teduh selalu
membuatku yakin.
Suatu malam ketika aku sedang
berjalan kaki sepulang dari aku mengikuti bimbingan belajar, aku mendapat
sebuah pesan singkat dari handphone-ku.
Jika kau tak punya kaki , jangan takut...
karna pasti ada seseorang yang memberikan langkahnya kepadamu...
Jika kau tak punya mata , jangan takut...
karna pasti ada seseorang yg memberikan warna hidupnya untukmu...
Jika kau tak punya bibir , jangan takut...
Jika kau tak punya bibir , jangan takut...
karna pasti ada seseorang yg membisikkan kata-kata indah untuk
ketenangan batinmu....
Dan jika kau tak punya telinga , jangan takut...
Dan jika kau tak punya telinga , jangan takut...
karna pasti ada seseorang yg menunjukkan bahasa yg lebih indah
kepadamu..
Tapi takutlah jika kau tak punya hati ! Karna tanpa hati hidup kita tak berarti...
Dan jangan biarkan egois menguasai hatimu ! karna akan membuat hati kita mati...
Karna cinta tidak egois , dia akan selalu memberikan kesempatan kedua kepadamu......
Tapi takutlah jika kau tak punya hati ! Karna tanpa hati hidup kita tak berarti...
Dan jangan biarkan egois menguasai hatimu ! karna akan membuat hati kita mati...
Karna cinta tidak egois , dia akan selalu memberikan kesempatan kedua kepadamu......
Aku menangis membaca isi pesan singkat tersebut. Aku merasakan
cinta yang mendalam dari puisi tersebut dan aku pun tersentuh. Karena merasa
puisi itu sangat bagus, aku membacanya berulang-ulang dan tidak menyadari aku
membacanya sambil berjalan tanpa arah. Ternyata aku sudah berjalan ke arah
tengah jalan raya dan ketika aku menyadarinya, aku melihat sebuah sedan dengan
cepat meluncur ke arahku. Aku hanya bisa terpaku di jalan. Tiba-tiba aku
merasakan tubuhku ditabrak sesuatu. Aku sudah mengira aku akan mati, tetapi
dugaanku salah. Di jalan aku melihat sedan merah itu masih meluncur, tanpa
mengurangi kecepatannya. Aku pun sadar bahwa aku tidak jadi mati karena ada
yang menolongku. Ketika aku menoleh ke arah orang yang menolongku tersebut, aku
melihat seseorang lelaki tergeletak bersimbah darah. Aku pun langsung
mendekatinya. Aku mengenali lelaki tersebut. Dia Kevin.
Aku pun menangis. Duniaku serasa
kacau melihatnya tergeletak setengah sadar. Dia menatapku dengan tatapan
matanya yang teduh, lalu membisikkan puisi yang sama dengan puisi yang kubaca
tadi. Aku hanya bisa menatapnya sambil menangis sesugukan. Hal terakhir yang
kusadari adalah orang-orang berlarian ke arahku dan membawa Kevin ke rumah
sakit.
Aku pun menunggu Kevin yang ternyata
harus menjalani operasi di rumah sakit. Aku berdoa sekuat tenaga supaya Kevin
selamat. Supaya Kevin sembuh. Supaya aku dapat melihat senyumnya. Dan supaya
aku dapat melihat matanya yang teduh.
Beberapa jam kemudian, Dokter yang
menangani Kevin pun keluar. Dia berkata dengan pelan tapi aku masih bisa
mendengarnya. Kata-kata yang tidak pernah ingin aku dengar, " Dia akan
lumpuh permanen". Aku hanya terhenyak dan duniaku menggelap tiba-tiba.
Ketika aku sadar, aku menyadari aku
berada di ruang perawatan. Di sebelahku terdapat seorang suster yang sedang
mengecek tekanan darahku. Aku pun ingat kecelakaan tadi dan segera keluar untuk
melihat kondisi Kevin tanpa menghiraukan teriakan suster tersebut.
Ketika aku memasuki ruangan tempat
Kevin di rawat, aku dengan jelas melihat kondisi kaki Kevin yang diperban. Aku
pun duduk di sebelahnya dan memandangi wajahnya. Melihat wajahnya yang tertidur
bak malaikat membuat airmataku kembali mengalir. Tanpa sadar aku pun berbisik
dengan lirih, "Kenapa tidak aku saja yang cacat?"
Tiba-tiba Kevin terbangun. Rupanya
Kevin mendengar kata-kataku tadi dan berkata dengan keras , "Aku bersedia
cacat! Biar saja aku cacat! Karna aku yakin kau akan memberikan langkahmu
untukku. Dan sebenarnya aku tidak cacat lagi karena aku telah menemukan tulang
rusukku yg hilang...."
***



0 komentar:
Posting Komentar