Pages

Subscribe:

Selasa, 09 Juli 2013

Story For Him



Kutelusuri pekatnya malam
Kutelusuri misteriusnya hutan
Kutelusuri tajamnya semak belukar
Tapi aku tidak bisa menemukanmu

            Hari ini mungkin hari terakhir aku menemuimu. Melihat senyummu yang mengembang seperti pelangi yang melengkung indah di penghujung hujan. Senyummu akan selalu abadi di relung hatiku dengan lesung pipi yang akan selalu menghias di sebelah kiri pipimu. Di ruangan serba putih ini, aku tidak akan pernah menyesali kejadian 5 tahun terakhir yang terjadi di dalam hidupku walaupun sekarang kau berdiri tegak di sana. Ya, di sana. Di atas altar gereja yang suci bersama seseorang yang akan menemanimu sampai tiba saatnya di penghujung el-maut. Semuanya akan terasa indah kalau saja orang yang berada di sisimu sekarang adalah diriku. Tetapi semua itu tidak penting lagi. Yang terpenting adalah matamu yang teduh ikut tersenyum bersama janji sehidup semati yang kau utarakan dengan lantang dan tegas.
***
            Gerombolan putih-hitam mengerumuni suatu objek yang sepertinya sangat menarik minat. Tapi tidak bagiku. Walaupun aku sebangsa dengan mereka,  mengenakan setelan putih-hitam yang lebih membosankan daripada pelajaran sejarah, tetapi aku tidak berminat sama sekali dengan objek tersebut. Sama tidak berminatnya dengan hasratku untuk memasuki fakultas di ibukota Jawa Tengah ini. Aku yang memang terlahir cengeng dan melankolis, sebenarnya lebih berminat memasuki jurusan sastra. Tapi apa boleh buat keluargaku yang semua berlatar pendidikan hukum berharap aku masuk jurusan hukum di universitas yang sama dengan ibu, abang, dan kakakku. Aku tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan ibuku kalau tidak mau dikuliahi panjang lebar mengenai masa depanku jika mengambil jurusan sastra. Lagipula seperti yang sering kita dengar diutarakan pujangga picisan bahwa cinta itu diperlukan pengorbanan. Well, aku pikir kata-kata yang sudah terkenal dari jaman Dinasti Ming itu tidak hanya berlaku untuk cinta antar lawan jenis saja, tetapi terkadang kita juga harus berkorban untuk keluarga yang mencintaimu tanpa pamrih.
            Kembali ke gerombolan hitam-putih tadi yang mengerumuni sebuah objek dengan heboh. Objek tersebut ternyata adalah papan pengumuman yang berisi daftar pembagian kelas untuk mahasiswa baru semester satu. Sesuai dengan kebijakan fakultas, mahasiswa baru memang masih diatur pembagian kelasnya serta penginputan KRS (Kartu Rencana Studi) dan mata kuliah yang akan ditempuh pada semester satu ini, dan baru pada semester dua mahasiswa bisa menginput KRS-nya  sendiri. Aku menatap nanar gerombolan putih-hitam yang sepertinya berharap-harap cemas agar sekelas dengan teman mereka yang berasal dari sekolah dan daerah yang sama. Calon mahasiswa baru yang berasal dari kota pempek sepertinya hanyalah aku. Teman-teman SMA-ku yang mencoba mendaftar disini, tidak ada yang lolos SNMPTN (Seleksi Naional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) maupun UM (Ujian Mandiri). Entah antara aku yang terlalu pintar, atau hanya sekedar mujur.
            Di sisi lain di bawah tenda, tempat dimana aku masih duduk menunggu gerombolan hitam-putih tadi bubar, ada seorang laki-laki yang hanya duduk sambil menatap datar gerombolan putih-hitam tersebut. Mungkin memang dia senasib denganku, tidak ada passion untuk masuk kampus ini. Aku mengamati mukanya yang tidak lebih kusut daripada setelan putih-hitamnya. Kalau diamati lebih seksama, air mukanya lebih keruh daripada Sungai Musi, Sungai dimana kotaku berasal.
            Saat sedang asyik mengamati mukanya yang seperti kertas ulangan matematikaku  yang penuh dengan coretan dan bikin kepala senantiasa mumet, tiba-tiba laki-laki itu memandangku dengan tatapan matanya yang tajam dan menusuk. Aku pun refleks mengalihkan pandangan ke arah lain. Sepertinya lelaki itu sebangsa Nagini-­nya Lord Voldemort, tokoh ular dalam novel seri Harry Potter. Jangan pernah melihat langsung ke matanya, kalau tidak mau mati mendadak. Dalam kasus lelaki tadi bukan karena matanya yang mengandung sihir atau apa, tetapi lebih karena efek serangan jantung. Mungkin di matanya terkandung ratusan pisau yang siap menghujam jantung siapa saja yang berani melihat langsung ke matanya.
            Daripada mati mendadak di kota lunpia ini dan membawa gelar alm bukannya SH ke Palembang , aku lebih memilih mendatangi papan pengumuman yang sudah mulai sepi peminat dan mulai mencari namaku disana. Nama Yeshamiel Angela tertulis di deretan nama kelas D. Setelah mengetahui kelasku dimana, aku memutuskan pulang untuk mempersiapkan mental memasuki fase baru di dalam hidupku.
***
            Aku mulai menjalani jadwal perkuliahanku dengan bosan. Siang ini aku mengikuti pelajaran Pengantar Ilmu Hukum, mata kuliah dasar yang harus diikuti oleh mahasiwa hukum semester satu. Walaupun pelajarannya terkenal membosankan, tetapi aku menyukai dosen yang mengajar mata kuliah ini. Walaupun sudah tua, Pak Budiyanto memiliki gaya yang unik dan nyentrik dalam berpakaian, tidak terlalu formal seperti dosen-dosen yang lain.
“Apakah ada murid di kelas ini yang mengikuti kegiatan climbing ke gunung Ungaran minggu lalu?” Pak Budi bertanya pada di tengah-tengah beliau menerangkan tentang ratio legis.
            Tidak ada satupun di antara murid kelas D yang menunjukkan tangannya ke atas. Ketika Pak Budi hendak melanjutkan materi, tiba-tiba ada suara berat dengan aksen Jawa yang kental menyahut, “ Saya Pak!”
            Aku pun langsung mengalihkan pandangan ke asal suara. Ternyata laki-laki tersebut si lelaki bermata Nagini pada saat hari pengumuman pembagian kelas tempo dulu. Aku pun kaget, heran kenapa dua bulan ini tidak menyadari kehadirannya di kelasku. Pandangan mata kami pun beradu, dan dia tersenyum. Alarm di hatiku langsung berbunyi. Tatapan matanya tidak sama waktu dia menatapku di bawah tenda tempo hari itu. Tatapan matanya kali ini meneduhkan bukan menusuk. Dan senyumnya pada saat itulah awal dari semua kisah ini.
***
            “Namanya Nathanael Bhagaskara Widayaka. Anak asli sini.”  Cecil memberitahuku nama cowok bermata Nagini tadi. Maklum, aku orangnya agak pendiam dan kuper  jadi tidak  terlalu tahu nama-nama makhluk kelas D. Apalagi makhluk yang berjenis kelamin cowok.
            “Terus kok orangnya misterius gitu sih? Perasaan anaknya nggak terlalu banyak ngomong.” ujarku penasaran demi mengorek info lebih dalam.
            “Yah, aku nggak terlalu tau, mungkin memang anaknya pendiem. Tapi kalau sama anak-anak SMA-nya dulu dia banyak ngomong kok. Mungkin karena belum terlalu akrab kali.” Cecil menanggapi perkataanku barusan.
            “Eh, tapi banyak loh anak kelas ini yang suka sama dia!” lanjut Cecil lagi.
            “SERIUS?!?!” teriakku menggelegar tidak rela mendengar informasi barusan. Kontan sekelas melihat ke arahku, termasuk lelaki bermata Nagini yang akrab dipanggil Bagas. Sesaat mata kami beradu dan aku bengong melihat tatapan matanya yang tajam. Banyak saingan dan sepertinya dia juga tidak suka padaku, I think time to move on!
***
            Semester satu telah berlalu. Nilai-nilai ku pun sebenarnya tidak terlalu mengecewakan kecuali fakta aku mendapat C di mata kuliah olahraga. Aku pun sebenarnya tidak mengerti maksud dari kebijakan universitas memberikan mata kuliah tersebut. Dan aku sampai mati pun ogah disuruh mengulang mata kuliah yang melelahkan tersebut.
            Hubunganku dengan Bagas? Kami hanya 3 kali berbincang-bincang di dunia maya melalui blackberry messenger atau bahasa kerennya BBM. Satu kali membahas lukisannya yang dia pajang di display picture-nya. Kali lain ketika aku mengajak, bukan lebih tepatnya memaksa dia untuk datang ujian olahraga yang dipercepat sehabis UAS. Sisanya BBM-ku tak pernah dibalas. Apalagi kalau menyangkut tugas, di-read pun enggak!
            Semester dua pun aku tapaki dengan harapan tidak ada lagi kelas yang nyangkut dengan Bagas. Ternyata doaku belum dikabulkan Tuhan. Masih ada mata kuliah dimana aku sekelas dengannya. Dan sialnya lagi di mata kuliah tersebut aku tidak sekelas dengan teman-teman akrabku! Pantas saja ketika menginput mata kuliah tersebut, perasaanku tidak enak.
            Hari-hari aku menduduki semester dua pun berlalu dan tibalah hari dimana cintaku mulai berkembang tak terkendali.
***
            Perkumpulan Mahasiswa Pecinta Alam atau yang biasa disebut Mapala mengadakan pendakian ke Gunung Salak. Bagas yang memang aktif di kegiatan-kegiatan seperti itu tentu saja ikut dalam acara pendakian tersebut. Info ini aku dapatkan dari Rara, ketua perhimpunan Bagas Lovers.
            Dari awal aku mendengar tentang acara tersebut, sebenarnya perasaanku mulai tidak enak. Tetapi aku segera menepis bayangan-bayangan buruk tersebut. Mereka beramai-ramai pasti tidak ada kejadian yang berarti, lagipula kalau ada sesuatu yang terjadi pasti Kak Natan, ketua perkumpulan Mapala, pasti akan dengan sigap membantu. Pasti.
            Tapi ada kalanya suatu perasaan tidak enak tidak bisa diabaikan begitu saja.
***
            Di ruangan inilah aku membeku, nyaris tak bisa mengucapkan sepatah katapun. Seseorang nyaris terbaring kaku di ruangan ini, dengan selang-selang yang menghiasi di bagian-bagian tertentu tubuhnya. Aku nyaris saja berteriak histeris melihar orang itu, kalau saja aku tidak ingat dimana sekarang aku berada.
            Ya orang itu adalah Bagas. Bagas yang selalu kurindukan senyumnya. Bagas yang selalu kurindukan wajahnya. Bagas yang aku cintai.
            Dengan perasaan yang kacau balau dan dengan berjalan tertatih-tatih aku melewati lorong rumah sakit yang sepi ini. Masih segar di ingatanku penjelasan Kak Nathan tadi.
            “Bagas jatuh waktu mau nolong Dika yang tergelincir, Yes. Tulang rusuknya patah, dan patahan itu nembus ke hatinya. Hatinya rusak dan mengalami infeksi parah karena terlalu lama di bawa ke rumah sakit besar. Jadi hatinya harus dibuang, dan Bagas memerlukan transplatasi hati sesegara mungkin.”
            “Emang golongan darah Bagas apa kak?”
            “O negatif“
***
The honous of your noble presence is requested at the marriage of
Nathanael Bhagaskara Widayaka
&
 Dayati Dihyan Jingga

in Katedral Church Semarang
on the seventh day of July,
in the year of our lor Two Thousand and eigtheen
9 Jl. Pandanaran  Semarang ,Central Java

and afterward
for much feasting and merriment in Crowne Plaza Hotel Ballroom
118 Jl.Pemuda Semarang, Central Java

            “Kamu yakin Yes mau dateng? Lusa kamu harus operasi, hari ini udah harus opname di rumah sakit?” ujar Cecil sebagai upaya mencegah aku datang ke pernikahan Bagas.
            “Nggak apa-apa Cil, aku udah konsultasi sama dokter, aku opnamenya lusa pagi aja. Semua tes yang harus dijalani udah selesai kok dan hasilnya semuanya baik. Kamu tenang aja.” Aku mencoba menenangkan sahabatku yang paling setia ini.
            “Tapi aku yang nggak rela! Dia sehat-sehat aja dengan hati yang kamu donorin, sedangkan kamu malah kena infeksi dan harus mendapatkan transplatasi hati yang baru! Dan dia malah enak-enakan mau nikah sama perempuan lain!” teriak Cecil mulai menangis.
Melihat sahabatku menangis aku juga ikutan ingin menangis, tetapi aku menahannya. Aku pun tersenyum.
“Cil, Bagas kan nggak tau kalau aku yang donorin hati buat dia. Ngelihat dia sehat dan bahagia, udah cukup banget kok buat aku.” Aku mencoba menghibur temanku ini sambil memeluknya.
Dan aku tidak pernah tau kalau pelukan tersebut adalah pelukan terakhir.
***
            Tempat ini begitu membosankan. Sejauh mata memandang hanya ada warna hijau dan putih di sini. Di salah satu titik objek sedang berkerumun orang-orang berpakaian hitam. Mereka mengerumuni suatu batu nisan yang berbentuk salib tersebut. Paras mereka menunjukkan kesedihan yang mendalam.
Yeshamiel Angela
7 Oktober 1994- 9 Juli 2018
“Sebongkah hati yang murni kiranya selalu menerangi hidup kita semua”
                Aku masih bisa melihat dengan jelas wajah kedua orang tuaku yang basah. Cecil yang terisak-isak tak jauh dari orang tuaku. Air mata mereka mengalir deras seperti sungai yang mengalir di Efrata. Tapi kehadiranku di sini bukan tidak menerima takdir atau apa.
            Aku hanya ingin melihat dia.
            Sosoknya dari kejauhan pun bisa kukenali. Badannya yang tegap dan mata yang teduh selalu menghiasi wajahnya. Di sebelahnya terdapat seorang wanita yang setia mendampinginya. Dan tentu saja wanita itu bukan aku.
            “Yes, terima kasih sudah memberikan sebongkah hati dan cinta yang murni kepadaku. Kiranya kasih dan berkat yang kau berikan kepadaku, selalu menerangi jalan hidupku.”
            Dan Bagas pun menangis. Seorang Nathanael Bhagaskara Widayaka menangis. Dan dia menangis untukku.
            Aku pun tersenyum. Aku melihat wajah-wajah yang aku cintai untuk terakhir kalinya. Dan dengan langkah yang ringan tanpa beban aku pun berjalan dengan mantap. Berjalan ke arah sumber terang. Terang yang abadi selama-lamanya.
***

Dapatkah kau melihat sebongkah hatiku yang murni dengan balutan cinta yang suci hanya untukmu?