Kutelusuri pekatnya malam
Kutelusuri misteriusnya hutan
Kutelusuri tajamnya semak belukar
Tapi aku tidak bisa menemukanmu
Hari ini mungkin hari terakhir aku
menemuimu. Melihat senyummu yang mengembang seperti pelangi yang melengkung indah
di penghujung hujan. Senyummu akan selalu abadi di relung hatiku dengan lesung
pipi yang akan selalu menghias di sebelah kiri pipimu. Di ruangan serba putih
ini, aku tidak akan pernah menyesali kejadian 5 tahun terakhir yang terjadi di
dalam hidupku walaupun sekarang kau berdiri tegak di sana. Ya, di sana. Di atas
altar gereja yang suci bersama seseorang yang akan menemanimu sampai tiba
saatnya di penghujung el-maut. Semuanya akan terasa indah kalau saja orang yang
berada di sisimu sekarang adalah diriku. Tetapi semua itu tidak penting lagi.
Yang terpenting adalah matamu yang teduh ikut tersenyum bersama janji sehidup
semati yang kau utarakan dengan lantang dan tegas.
***
Gerombolan putih-hitam mengerumuni
suatu objek yang sepertinya sangat menarik minat. Tapi tidak bagiku. Walaupun
aku sebangsa dengan mereka, mengenakan
setelan putih-hitam yang lebih membosankan daripada pelajaran sejarah, tetapi
aku tidak berminat sama sekali dengan objek tersebut. Sama tidak berminatnya
dengan hasratku untuk memasuki fakultas di ibukota Jawa Tengah ini. Aku yang
memang terlahir cengeng dan melankolis, sebenarnya lebih berminat memasuki
jurusan sastra. Tapi apa boleh buat keluargaku yang semua berlatar pendidikan
hukum berharap aku masuk jurusan hukum di universitas yang sama dengan ibu,
abang, dan kakakku. Aku tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan
ibuku kalau tidak mau dikuliahi panjang lebar mengenai masa depanku jika
mengambil jurusan sastra. Lagipula seperti yang sering kita dengar diutarakan
pujangga picisan bahwa cinta itu diperlukan pengorbanan. Well, aku pikir
kata-kata yang sudah terkenal dari jaman Dinasti Ming itu tidak hanya berlaku
untuk cinta antar lawan jenis saja, tetapi terkadang kita juga harus berkorban
untuk keluarga yang mencintaimu tanpa pamrih.
Kembali ke gerombolan hitam-putih
tadi yang mengerumuni sebuah objek dengan heboh. Objek tersebut ternyata adalah
papan pengumuman yang berisi daftar pembagian kelas untuk mahasiswa baru semester
satu. Sesuai dengan kebijakan fakultas, mahasiswa baru memang masih diatur
pembagian kelasnya serta penginputan KRS (Kartu Rencana Studi) dan mata kuliah
yang akan ditempuh pada semester satu ini, dan baru pada semester dua mahasiswa
bisa menginput KRS-nya sendiri. Aku
menatap nanar gerombolan putih-hitam yang sepertinya berharap-harap cemas agar
sekelas dengan teman mereka yang berasal dari sekolah dan daerah yang sama.
Calon mahasiswa baru yang berasal dari kota pempek sepertinya hanyalah aku. Teman-teman
SMA-ku yang mencoba mendaftar disini, tidak ada yang lolos SNMPTN (Seleksi
Naional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) maupun UM (Ujian Mandiri). Entah antara aku
yang terlalu pintar, atau hanya sekedar mujur.
Di sisi lain di bawah tenda, tempat
dimana aku masih duduk menunggu gerombolan hitam-putih tadi bubar, ada seorang laki-laki
yang hanya duduk sambil menatap datar gerombolan putih-hitam tersebut. Mungkin
memang dia senasib denganku, tidak ada passion
untuk masuk kampus ini. Aku mengamati mukanya yang tidak lebih kusut daripada
setelan putih-hitamnya. Kalau diamati lebih seksama, air mukanya lebih keruh
daripada Sungai Musi, Sungai dimana kotaku berasal.
Saat sedang asyik mengamati mukanya
yang seperti kertas ulangan matematikaku
yang penuh dengan coretan dan bikin kepala senantiasa mumet, tiba-tiba
laki-laki itu memandangku dengan tatapan matanya yang tajam dan menusuk. Aku
pun refleks mengalihkan pandangan ke arah lain. Sepertinya lelaki itu sebangsa Nagini-nya Lord Voldemort, tokoh ular dalam novel seri Harry Potter. Jangan
pernah melihat langsung ke matanya, kalau tidak mau mati mendadak. Dalam kasus
lelaki tadi bukan karena matanya yang mengandung sihir atau apa, tetapi lebih
karena efek serangan jantung. Mungkin di matanya terkandung ratusan pisau yang
siap menghujam jantung siapa saja yang berani melihat langsung ke matanya.
Daripada mati mendadak di kota
lunpia ini dan membawa gelar alm bukannya SH ke Palembang , aku lebih memilih
mendatangi papan pengumuman yang sudah mulai sepi peminat dan mulai mencari
namaku disana. Nama Yeshamiel Angela tertulis di deretan nama kelas D. Setelah
mengetahui kelasku dimana, aku memutuskan pulang untuk mempersiapkan mental
memasuki fase baru di dalam hidupku.
***
Aku mulai menjalani jadwal
perkuliahanku dengan bosan. Siang ini aku mengikuti pelajaran Pengantar Ilmu
Hukum, mata kuliah dasar yang harus diikuti oleh mahasiwa hukum semester satu.
Walaupun pelajarannya terkenal membosankan, tetapi aku menyukai dosen yang
mengajar mata kuliah ini. Walaupun sudah tua, Pak Budiyanto memiliki gaya yang
unik dan nyentrik dalam berpakaian, tidak terlalu formal seperti dosen-dosen
yang lain.
“Apakah
ada murid di kelas ini yang mengikuti kegiatan climbing ke gunung Ungaran minggu lalu?” Pak Budi bertanya pada di
tengah-tengah beliau menerangkan tentang ratio
legis.
Tidak
ada satupun di antara murid kelas D yang menunjukkan tangannya ke atas. Ketika
Pak Budi hendak melanjutkan materi, tiba-tiba ada suara berat dengan aksen Jawa
yang kental menyahut, “ Saya Pak!”
Aku pun langsung mengalihkan
pandangan ke asal suara. Ternyata laki-laki tersebut si lelaki bermata Nagini pada saat hari pengumuman
pembagian kelas tempo dulu. Aku pun kaget, heran kenapa dua bulan ini tidak
menyadari kehadirannya di kelasku. Pandangan mata kami pun beradu, dan dia tersenyum.
Alarm di hatiku langsung berbunyi. Tatapan matanya tidak sama waktu dia
menatapku di bawah tenda tempo hari itu. Tatapan matanya kali ini meneduhkan
bukan menusuk. Dan senyumnya pada saat itulah awal dari semua kisah ini.
***
“Namanya Nathanael Bhagaskara
Widayaka. Anak asli sini.” Cecil
memberitahuku nama cowok bermata Nagini tadi. Maklum, aku orangnya agak pendiam
dan kuper jadi tidak terlalu tahu nama-nama makhluk kelas D. Apalagi
makhluk yang berjenis kelamin cowok.
“Terus kok orangnya misterius gitu
sih? Perasaan anaknya nggak terlalu banyak ngomong.” ujarku penasaran demi
mengorek info lebih dalam.
“Yah, aku nggak terlalu tau, mungkin
memang anaknya pendiem. Tapi kalau sama anak-anak SMA-nya dulu dia banyak
ngomong kok. Mungkin karena belum terlalu akrab kali.” Cecil menanggapi
perkataanku barusan.
“Eh, tapi banyak loh anak kelas ini
yang suka sama dia!” lanjut Cecil lagi.
“SERIUS?!?!” teriakku menggelegar
tidak rela mendengar informasi barusan. Kontan sekelas melihat ke arahku,
termasuk lelaki bermata Nagini yang akrab dipanggil Bagas. Sesaat mata kami
beradu dan aku bengong melihat tatapan matanya yang tajam. Banyak saingan dan
sepertinya dia juga tidak suka padaku, I think
time to move on!
***
Semester satu telah berlalu.
Nilai-nilai ku pun sebenarnya tidak terlalu mengecewakan kecuali fakta aku
mendapat C di mata kuliah olahraga. Aku pun sebenarnya tidak mengerti maksud
dari kebijakan universitas memberikan mata kuliah tersebut. Dan aku sampai mati
pun ogah disuruh mengulang mata kuliah yang melelahkan tersebut.
Hubunganku dengan Bagas? Kami hanya
3 kali berbincang-bincang di dunia maya melalui blackberry messenger atau bahasa kerennya BBM. Satu kali membahas
lukisannya yang dia pajang di display
picture-nya. Kali lain ketika aku mengajak, bukan lebih tepatnya memaksa dia
untuk datang ujian olahraga yang dipercepat sehabis UAS. Sisanya BBM-ku tak
pernah dibalas. Apalagi kalau menyangkut tugas, di-read pun enggak!
Semester dua pun aku tapaki dengan
harapan tidak ada lagi kelas yang nyangkut dengan Bagas. Ternyata doaku belum
dikabulkan Tuhan. Masih ada mata kuliah dimana aku sekelas dengannya. Dan
sialnya lagi di mata kuliah tersebut aku tidak sekelas dengan teman-teman
akrabku! Pantas saja ketika menginput mata kuliah tersebut, perasaanku tidak
enak.
Hari-hari aku menduduki semester dua
pun berlalu dan tibalah hari dimana cintaku mulai berkembang tak terkendali.
***
Perkumpulan Mahasiswa Pecinta Alam
atau yang biasa disebut Mapala mengadakan pendakian ke Gunung Salak. Bagas yang
memang aktif di kegiatan-kegiatan seperti itu tentu saja ikut dalam acara
pendakian tersebut. Info ini aku dapatkan dari Rara, ketua perhimpunan Bagas Lovers.
Dari awal aku mendengar tentang
acara tersebut, sebenarnya perasaanku mulai tidak enak. Tetapi aku segera
menepis bayangan-bayangan buruk tersebut. Mereka beramai-ramai pasti tidak ada
kejadian yang berarti, lagipula kalau ada sesuatu yang terjadi pasti Kak Natan,
ketua perkumpulan Mapala, pasti akan dengan sigap membantu. Pasti.
Tapi ada kalanya suatu perasaan
tidak enak tidak bisa diabaikan begitu saja.
***
Di ruangan inilah aku membeku,
nyaris tak bisa mengucapkan sepatah katapun. Seseorang nyaris terbaring kaku di
ruangan ini, dengan selang-selang yang menghiasi di bagian-bagian tertentu
tubuhnya. Aku nyaris saja berteriak histeris melihar orang itu, kalau saja aku
tidak ingat dimana sekarang aku berada.
Ya orang itu adalah Bagas. Bagas
yang selalu kurindukan senyumnya. Bagas yang selalu kurindukan wajahnya. Bagas
yang aku cintai.
Dengan perasaan yang kacau balau dan
dengan berjalan tertatih-tatih aku melewati lorong rumah sakit yang sepi ini.
Masih segar di ingatanku penjelasan Kak Nathan tadi.
“Bagas
jatuh waktu mau nolong Dika yang tergelincir, Yes. Tulang rusuknya patah, dan
patahan itu nembus ke hatinya. Hatinya rusak dan mengalami infeksi parah karena
terlalu lama di bawa ke rumah sakit besar. Jadi hatinya harus dibuang, dan
Bagas memerlukan transplatasi hati sesegara mungkin.”
“Emang
golongan darah Bagas apa kak?”
“O
negatif“
***
The honous of your noble presence is
requested at the marriage of
Nathanael
Bhagaskara Widayaka
&
Dayati Dihyan Jingga
in Katedral Church Semarang
on the seventh day of July,
in the year of our lor Two Thousand and eigtheen
9 Jl. Pandanaran Semarang ,Central Java
and afterward
for much feasting and merriment in Crowne Plaza Hotel Ballroom
and afterward
for much feasting and merriment in Crowne Plaza Hotel Ballroom
118 Jl.Pemuda Semarang, Central Java
“Kamu yakin Yes mau
dateng? Lusa kamu harus operasi, hari ini udah harus opname di rumah sakit?”
ujar Cecil sebagai upaya mencegah aku datang ke pernikahan Bagas.
“Nggak apa-apa Cil, aku udah
konsultasi sama dokter, aku opnamenya lusa pagi aja. Semua tes yang harus
dijalani udah selesai kok dan hasilnya semuanya baik. Kamu tenang aja.” Aku mencoba
menenangkan sahabatku yang paling setia ini.
“Tapi aku yang nggak rela! Dia
sehat-sehat aja dengan hati yang kamu donorin, sedangkan kamu malah kena
infeksi dan harus mendapatkan transplatasi hati yang baru! Dan dia malah
enak-enakan mau nikah sama perempuan lain!” teriak Cecil mulai menangis.
Melihat
sahabatku menangis aku juga ikutan ingin menangis, tetapi aku menahannya. Aku
pun tersenyum.
“Cil,
Bagas kan nggak tau kalau aku yang donorin hati buat dia. Ngelihat dia sehat
dan bahagia, udah cukup banget kok buat aku.” Aku mencoba menghibur temanku ini
sambil memeluknya.
Dan
aku tidak pernah tau kalau pelukan tersebut adalah pelukan terakhir.
***
Tempat ini begitu membosankan.
Sejauh mata memandang hanya ada warna hijau dan putih di sini. Di salah satu
titik objek sedang berkerumun orang-orang berpakaian hitam. Mereka mengerumuni
suatu batu nisan yang berbentuk salib tersebut. Paras mereka menunjukkan
kesedihan yang mendalam.
Yeshamiel Angela
7 Oktober 1994- 9 Juli 2018
“Sebongkah hati yang murni kiranya selalu
menerangi hidup kita semua”
Aku
masih bisa melihat dengan jelas wajah kedua orang tuaku yang basah. Cecil yang
terisak-isak tak jauh dari orang tuaku. Air mata mereka mengalir deras seperti
sungai yang mengalir di Efrata. Tapi kehadiranku di sini bukan tidak menerima
takdir atau apa.
Aku hanya ingin melihat dia.
Sosoknya dari kejauhan pun bisa
kukenali. Badannya yang tegap dan mata yang teduh selalu menghiasi wajahnya. Di
sebelahnya terdapat seorang wanita yang setia mendampinginya. Dan tentu saja
wanita itu bukan aku.
“Yes, terima kasih sudah memberikan
sebongkah hati dan cinta yang murni kepadaku. Kiranya kasih dan berkat yang kau
berikan kepadaku, selalu menerangi jalan hidupku.”
Dan Bagas pun menangis. Seorang
Nathanael Bhagaskara Widayaka menangis. Dan dia menangis untukku.
Aku pun tersenyum. Aku melihat
wajah-wajah yang aku cintai untuk terakhir kalinya. Dan dengan langkah yang
ringan tanpa beban aku pun berjalan dengan mantap. Berjalan ke arah sumber
terang. Terang yang abadi selama-lamanya.
***
Dapatkah kau melihat sebongkah hatiku
yang murni dengan balutan cinta yang suci hanya untukmu?



0 komentar:
Posting Komentar