Pages

Subscribe:

Sabtu, 07 Desember 2013

All I want for Christmas is...



Tak terasa sudah memasuki bulan Desember. Bulan dimana seluruh umat Kristiani menyambut hari kelahiran Yesus Kristus. Bulan yang selalu berlumur harapan bagi setiap orang, tak terkecuali bagi saya.
                Sudah lama saya tidak menulis. Saya memang tipe orang yang moody sehingga ketika ide bermunculan di otak saya, saya akan menuliskannya sebentar, tetapi tidak akan saya lanjutkan sampai selesai. Itu yang membuat saya tidak terlalu produktif belakangan ini. Ketika saya sedih, saya tipe orang yang agak susah untuk menceritakan permasalahan saya kepada teman-teman saya. Saya lebih memilih menuliskannya dalam sebuah bentuk karya sasta yang sedikit diberi modifikasi agar orang-orang tidak terlalu tahu bahwa karya sastra itu sebenarnya menceritakan kisah tentang saya. Tetapi di dalam kesempatan ini saya akan mencoba menulis apa yang saya rasakan sekarang, tidak saya tutup-tutupi dengan karangan atau cerita fiksi yang biasa saya buat.
                Kembali ke Bulan Desember. Biasanya saya akan menyambut senang bulan ini, karena bulan ini selalu identik dengan perayaan yang penuh sukacita. Atmosfer natal pun akan mulai bermunculan di tempat-tempat ibadah umat kristiani, ataupun di tempat-tempat umum seperti pusat perbelanjaan dan lain-lain. Pokoknya saya akan sangat senang memasuki bulan ini. Namun sepertinya tidak untuk tahun ini.
                Memasuki Bulan Desember, di berbagai media sosial seperti twitter, orang-orang mulai menuliskan harapan-harapan mereka menjelang natal. Ada yang menginginkan gadget, sepatu, baju baru, dan lain-lain. Seperti yang lain saya pun mempunyai sebuah harapan. Harapan yang mungkin sepele kedengarannya, tidak bisa dibeli dengan uang, tetapi faktanya sangat mahal dan kita harus banyak-banyak berdoa kepada yang di Atas agar harapan tersebut terkabul. Keinginan tersebut dibalut dengan huruf K,E,S,E,M,B,U,H,A,N. Ya, kesembuhan. Untuk orang yang saya cintai.
                Ayah. Apa yang kalian pikirkan ketika menyebutkan kata itu? Galak? Keras? Kaku Ataukah Pemarah?
                Semua kata-kata di atas sepertinya sudah mendeskripsikan sebagian besar tentang ayah saya. Seperti tipe ayah-ayah Batak pada umumnya, ayah saya memang Keras. Beliau kadang suka marah kalau saya terlalu manja ataupun melakukan kesalahan-kesalahan bodoh. Kalau saya menangis? Jangan ditanya lagi beliau pasti akan langsung memarahi saya habis-habisan, berbeda dengan ayah-ayah lain yang akan mengibur anak perempuannya ketika mereka menangis. Ketika saya kecil saya pun bingung, kenapa ketika saya menangis beliau malah memarahi saya bukan berusaha menghibur atau menenangkan saya. Apakah beliau membenci saya? Atau karena tidak mau repot?
                                Jawabannya, tidak. Alasan ayah saya melakukan itu karena beliau paling benci melihat saya menangis.  Tetapi seperti yang saya katakan sebelumnya, ayah saya merupakan tipe ayah Batak yang keras sehingga beliau agak kaku dalam mengekspresikan perasaannya. Kekhawatirannya diakumulasikan dalam bentuk kemarahan, bukan karena dia membenci saya, terlebih karena dia terlalu mencintai saya.
                Belakangan ini saya selalu ke kampus dengan kondisi mata yang agak bengkak. Untuk menyiasatinya akhir-akhir ini saya menggunakan eyeliner dan mascara untuk menutupi mata bengkak saya. Tetapi sepertinya saya tidak bisa menipu salah satu teman saya. Dia menanyakan kenapa mata saya bengkak. Saya pun berusaha menutupi dengan cerita bahwa mata saya sedang sakit. Ya mata saya memang sakit, karena terlalu lelah menangis.
                Di Bulan Desember yang seharusnya penuh keceriaan ini, saya memang sering menangis. Kenapa? Karena cowok ganteng di kampus yang sudah saya taksir dari semester 1 tak kunjung membalas cinta saya? (maaf, jadi curcol :p) Atau karena saya sama sekali mengerti dengan mata kuliah waris padahal saya berniat mengambil jurusan perdata? Ataukah saya menangis karena saya hampir mati kebosanan di Semarang?
                Saya menangis karena orang yang biasa memarahi saya  ketika saya menangis sedang terbaring lemah di rumah sakit. Dan yang lebih menyakitkan saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk beliau.
                So, what I want for Christmas this year? All I want for christmas is someone who usually scold me when I cried to scold me like it used to be. Simple as that.
                Happy (Sad)turday everyone!