Tak terasa sudah memasuki bulan Desember. Bulan dimana
seluruh umat Kristiani menyambut hari kelahiran Yesus Kristus. Bulan yang
selalu berlumur harapan bagi setiap orang, tak terkecuali bagi saya.
Sudah
lama saya tidak menulis. Saya memang tipe orang yang moody sehingga ketika ide
bermunculan di otak saya, saya akan menuliskannya sebentar, tetapi tidak akan
saya lanjutkan sampai selesai. Itu yang membuat saya tidak terlalu produktif
belakangan ini. Ketika saya sedih, saya tipe orang yang agak susah untuk
menceritakan permasalahan saya kepada teman-teman saya. Saya lebih memilih
menuliskannya dalam sebuah bentuk karya sasta yang sedikit diberi modifikasi
agar orang-orang tidak terlalu tahu bahwa karya sastra itu sebenarnya
menceritakan kisah tentang saya. Tetapi di dalam kesempatan ini saya akan
mencoba menulis apa yang saya rasakan sekarang, tidak saya tutup-tutupi dengan
karangan atau cerita fiksi yang biasa saya buat.
Kembali
ke Bulan Desember. Biasanya saya akan menyambut senang bulan ini, karena bulan
ini selalu identik dengan perayaan yang penuh sukacita. Atmosfer natal pun akan
mulai bermunculan di tempat-tempat ibadah umat kristiani, ataupun di
tempat-tempat umum seperti pusat perbelanjaan dan lain-lain. Pokoknya saya akan
sangat senang memasuki bulan ini. Namun sepertinya tidak untuk tahun ini.
Memasuki
Bulan Desember, di berbagai media sosial seperti twitter, orang-orang mulai menuliskan harapan-harapan mereka
menjelang natal. Ada yang menginginkan gadget,
sepatu, baju baru, dan lain-lain.
Seperti yang lain saya pun mempunyai sebuah harapan. Harapan yang mungkin
sepele kedengarannya, tidak bisa dibeli dengan uang, tetapi faktanya sangat
mahal dan kita harus banyak-banyak berdoa kepada yang di Atas agar harapan
tersebut terkabul. Keinginan tersebut dibalut dengan huruf K,E,S,E,M,B,U,H,A,N.
Ya, kesembuhan. Untuk orang yang saya cintai.
Ayah.
Apa yang kalian pikirkan ketika menyebutkan kata itu? Galak? Keras? Kaku Ataukah
Pemarah?
Semua
kata-kata di atas sepertinya sudah mendeskripsikan sebagian besar tentang ayah
saya. Seperti tipe ayah-ayah Batak pada umumnya, ayah saya memang Keras. Beliau
kadang suka marah kalau saya terlalu manja ataupun melakukan
kesalahan-kesalahan bodoh. Kalau saya menangis? Jangan ditanya lagi beliau
pasti akan langsung memarahi saya habis-habisan, berbeda dengan ayah-ayah lain
yang akan mengibur anak perempuannya ketika mereka menangis. Ketika saya kecil
saya pun bingung, kenapa ketika saya menangis beliau malah memarahi saya bukan
berusaha menghibur atau menenangkan saya. Apakah beliau membenci saya? Atau
karena tidak mau repot?
Jawabannya,
tidak. Alasan ayah saya melakukan itu karena beliau paling benci melihat saya
menangis. Tetapi seperti yang saya
katakan sebelumnya, ayah saya merupakan tipe ayah Batak yang keras sehingga
beliau agak kaku dalam mengekspresikan perasaannya. Kekhawatirannya
diakumulasikan dalam bentuk kemarahan, bukan karena dia membenci saya, terlebih
karena dia terlalu mencintai saya.
Belakangan
ini saya selalu ke kampus dengan kondisi mata yang agak bengkak. Untuk
menyiasatinya akhir-akhir ini saya menggunakan eyeliner dan mascara untuk
menutupi mata bengkak saya. Tetapi sepertinya saya tidak bisa menipu salah satu
teman saya. Dia menanyakan kenapa mata saya bengkak. Saya pun berusaha menutupi
dengan cerita bahwa mata saya sedang sakit. Ya mata saya memang sakit, karena
terlalu lelah menangis.
Di
Bulan Desember yang seharusnya penuh keceriaan ini, saya memang sering
menangis. Kenapa? Karena cowok ganteng di kampus yang sudah saya taksir dari
semester 1 tak kunjung membalas cinta saya? (maaf, jadi curcol :p) Atau karena
saya sama sekali mengerti dengan mata kuliah waris padahal saya berniat
mengambil jurusan perdata? Ataukah saya menangis karena saya hampir mati
kebosanan di Semarang?
Saya
menangis karena orang yang biasa memarahi saya
ketika saya menangis sedang terbaring lemah di rumah sakit. Dan yang
lebih menyakitkan saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk beliau.
So,
what I want for Christmas this year? All I want for christmas is someone who
usually scold me when I cried to scold me like it used to be. Simple as that.
Happy
(Sad)turday everyone!


