Ketika seseorang, dihadapkan dengan
kematian, mereka akan lari dari kenyataan itu. Walau kematian itu tidak
ragu-ragu merenggut nyawamu. Kematian akan selalu mengikuti jejak langkahmu,
dan membayangimu ketika kau berjalan. Lari dan lari, hanya itulah yang bisa kau
lakukan.
Sama seperti halnya denganku. Kanker
payudara yang menggerogotiku, seperti sang malaikat maut yang mau merenggutku
dari dunia ini. Dia terus menjalar di tubuhku, seakan mempersembahkanku kepada
sang kematian. Aku ingin menjerit, aku ingin bersembunyi, dan aku ingin lari.
Umurku belum genap 17 tahun, tapi aku harus bertarung dengan sang kematian.
Sejak setahun yang lalu, ketika aku
divonis dokter menderita kanker payudara stadium akhir, aku memang melewati
hari-hariku di rumah sakit di luar negeri ini. Kedua orang tuaku masih berada
di Indonesia, membanting tulang mencari uang untuk membiayai pengobatanku yang
mahal di sini, untuk mendapatkan perawatan yang terbaik. Mungkin juga , mereka
tidak tega atau bahkan jijik dengan kondisiku. Gadis yang bahkan belum berumur
17 tahun , yang botak, kurus, dan pucat.
Tentu saja di sini aku tidak
sendirian. Kebetulan, kakak angkatku bekerja di sini sebagai perawat. Dia
jugalah yang menemaniku melewati hari-hari suramku di rumah sakit. Entahlah,
ketika bersamanya membuatku lupa, kalau aku sedang dicari-cari malaikat maut.
Namanya Noel. Dia adalah kakak
angkatku. Aku memang anak tunggal, tapi karena waktu aku kecil aku sangat manja
sekali, akhirnya kedua orangtuaku mengadopsi anak lelaki yang beda 7 tahun
dariku, dengan maksud agar aku tidak manja lagi. Tentu saja, keputusan kedua
orangtuaku salah, karena mengangkat Noel membuatku lebih manja lagi, terlebih
kepada kakakku yang satu itu. Waktu dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan
di akademi perawatan di luar negeri saja, aku sampai mogok makan selama satu
minggu. Aku memang sayang kakakku yang satu itu.
Sekarang sudah memasuki bulan
Desember. Bulan yang seharusnya Noel dan aku yang paling sukai, karena kami
berulang tahun di bulan ini. Tanggal yang sama dan jam yang sama. Kami berulang
tahun tepat jam 12.00 di hari natal. Tapi entah mengapa, tahun ini aku melewati
natal dengan suram. Ah, tentu saja karena malaikat hitam yang selalu mengikuti
dan mencariku.
Panggilan lembut Noel, membuyarkan
lamunanku.
"Lia, kok makanannya belum
dimakan sih? Nunggu aku yang suapi ya?" kata Noel dengan senyumannya yang
khas dan tatapan matanya yang teduh
"Ge-er!" aku pun ikut
tersenyum
"Hahaha, ayo dimakan. Bentar
lagi kan jadwalnya kemo," ujar Noel masih dengan tatapan matanya yang
teduh.
Senyumku pun pudar.
"Aku gak mau!"
"Lho kok gak mau sih li? Aku
udah siapin kursi rodanya lho! Sengaja aku siapin buat adikku yang cantik
ini," ujar Noel sambil menggoda dan membujukku.
"POKOKNYA AKU GAK MAU, YA GAK
MAU!" teriakku histeris.
Noel menatapku dengan sedih. Karena
aku tak tahan dengan tatapan itu, akhirnya aku punmau kemotrapi.
Malam ini aku tidak bisa tidur. Sama
seperti malam-malam sebelumnya. Tepatnya aku tidak mau tidur. Entahlah, mungkin
aku takut ketika aku tertidur, aku tak kan terbangun lagi. Ketakutan yang
selalu membuatku teringat akan sosok malaikat kegelapan, yang selalu
menghantuiku ketika aku tertidur sebentar. Pokoknya aku tidak mau tidur.
Noel berada di samping tempat
tidurku, terlelap dengan buku dongeng menutupi kepalanya. Hampir satu tahun ini
dia selalu membacakan dongeng sebelum tidur, dengan harapan aku bisa tertidur.
Harapan yang sia-sia karena dia yang selalu tertidur duluan.
Ketika aku sedang menatap
langit-langit, tiba-tiba, dari kejauhan aku mendengar suara-suara aneh.
Kupertajam telingaku, perlahan aku mengenal suara tersebut adalah sebuah
lagu.Ternyata lagu Please, christmas don't be late yang merupakan soundtrack
film Alvin and the chipmunk. Film yang paling aku dan Noel sukai waktu kecil
Christmas, Christmas time is near,
Time for toys and time for cheer.
We've been good, but we can't last,
Hurry Christmas, Hurry fast.
Want a plane that loops the loop,
(Alvin:) Me, I want a Hula-Hoop.
We can hardly stand the wait,
Please Christmas don't be late..
Want a plane that loops the loop,
(Alvin:)I still want a Hula-Hoop.
We can hardly stand the wait,
Please Christmas don't be late..
Akupun berbisik lirih di tengah kegelapan ,"Please
christmas, don't be late!"
***
Aku tahu aku
sudah berada di persimpangan antara hidup dan kematian. Tetapi aku salah.
Selama ini aku membayangkan aku akan dijemput oleh malaikat pencabut nyawa yang
tidak berwajah.Tetapi aku hanya berjalan sendiri, berjalan menuju sumber
terang.
Noel tahu aku akan pergi. Dia
meminta ijin ke dokter, agar ia boleh masuk ke ruang ICU untuk menemaniku. Aku
terbangun sebentar untuk memberikan secarik kertas kepadanya. Ia menyambut
tatapan mataku dengan tatapan matanya yang teduh , lalu ia mengangguk. Seperti
memberiku ijin aku untuk pergi. Lalu aku menghembuskan nafas terakhirku.
***
Ketika ku tertidur, Bapa menjaga dan
menemaniku....
Ketika ku terbangun, Bapa menyapaku
dan menghadapkan wajahnya yang cerah kepadaku...
Ketika ku berjalan di lorong yang
gelap, Bapa mengikutiku....
Ketika ku sakit, Bapa tersenyum dan
menghiburku......
Ketika ku tak tahan lagi dengan
semua rasa sakit itu, Bapa menjemputku dan mengantarkanku ke kehidupan yang
kekal.....


