14-01-2014.
Sebagian besar orang yang mengganggap tanggal itu cantik, mungkin akan melakukan
sesuatu agar tanggal itu berkesan istimewa di dalam hidup mereka. Ada yang
menembak gebetan yang sudah lama diincar pada tanggal itu, ada juga yang
menjadikan tanggal itu sebagai hari
untuk mengikrarkan janji sehidup-semati, ataupun menjadikan tanggal itu sebagai hari kelahiran buah hati
mereka melalui proses persalinan caesar. Saya
memang tidak akan pernah melupakan tanggal 14-01-2014 seumur hidup saya. Bukan
karena saya jadian atau menikah di tanggal itu. Bukan juga karena saya
mempunyai kerabat yang melahirkan pada hari itu. Saya tidak akan pernah
melupakan hari itu seumur hidup saya, karena hari itulah saya menumpahkan air
mata terbanyak di dalam hidup saya.
Seperti mahasiswa pada umumnya,
memasuki masa ujian saya akan mulai sibuk merapikan catatan atau membuat
kisi-kisi yang telah diberikan oleh segelintir dosen yang berbaik hati. Hari
itu, tanggal 14 Januari 2014, merupakan tanggal merah dalam kalender nasional
sehingga saya menghabiskan waktu untuk menjawab kisi-kisi yang telah diberikan
dosen hukum otonomi daerah saya yang memang berhati baik. Saya tidak akan lupa
saya sedang mengerjakan soal no 4 ketika ibu saya menelpon untuk memberitahukan
hal yang paling tidak ingin saya dengar di dalam hidup saya.
Natal tahun lalu saya meminta
kepada Santa Klaus agar memberitahukan harapan saya kepada Tuhan Yesus. Sebuah
harapan sederhana dan tidak berbau materi. Tapi entah memang Santa Klaus tidak
pernah ada, atau Santa Klaus yang bekerja pada natal tahun lalu sudah mulai
pikun, tetapi harapan saya tidak pernah
tersampaikan kepada Tuhan Yesus.
Pada waktu saya kecil, saya suka
sekali menyelinap keluar dari kamar tidur orangtua saya menuju kamar pembantu.
Jika saya ketahuan menyelinap keluar oleh ibu saya, ibu akan memarahi saya
habis-habisan karena lebih memilih tidur dengan pembantu ketimbang orangtua
sendiri. Biasanya kalau sudah dimarahi ibu, saya akan bersifat kekanak-kanakan
dengan menutupi seluruh tubuh saya menggunakan selimut sambil menangis sesegukan.
Ayah saya yang memang paling benci melihat saya menangis, akan menghampiri
saya. Awalnya beliau akan marah tetapi mendengar tangisan saya yang makin
menjadi, beliau akan mulai menyanyikan sebuah lagu berbahasa batak yang tidak saya mengerti sama sekali.
Walau suara beliau tidak terlalu merdu, lagu nina bobo versi beliau selalu
sukses membuat saya terlelap setelah lelah menangis karena dimarahi ibu saya.
Kembali ke tanggal 14-01-2014.
Kenapa saya tidak akan pernah melupakan tanggal itu? Karena tanggal itu menurut
orang Chinese merupakan tanggal yang
kurang bagus karena diwarnai angka 4? Ataukah karena pada tanggal itu saya
menang undian?
Saya tidak akan pernah melupakan
tanggal 14-01-2014 karena pada tanggal itu sayalah yang me-nina-bobo-kan seseorang
yang biasanya me-nina-bobo-kan saya ketika saya masih kecil. Tidak untuk lagu
penghantar tidur di malam hari, tetapi untuk menghantarkan beliau ke
peristirahatan terakhirnya.
If I saw you in heaven?
Would it be the same
If I saw you in heaven?
I must be strong
And carry on,
‘Cause I know I don’t belong
Here in heaven.
Would you hold my hand
If I saw you in heaven?
Would you help me stand
If I saw you in heaven?
I’ll find my way
Through night and day,
‘Cause I know I just can’t stay
Here in heaven.
(Erick Clapton – Tears in Heaven)


