Terduduk ku
ditengah rerumputan. Hujan gerimis pun seakan menemani seluruh penantianku
disini. Kucium bau rerumputan basah, berharap dapat membantu menelan semua
kepahitan ini. Tapi aku tahu, semua itu adalah tindakan konyol yang sama
sekali tidak akan membantu. Semuanya sia-sia. Semuanya sudah terlambat.
Kumenangisi seluruh keterlambatanku. Dan yang setia menampung seluruh
tangisanku adalah tanah yang seakan ikut membisu menyaksikan keterpurukanku
bersama orang-orang di sekitarku.
Tangisanku pun
akhirnya berhenti ketika suara sirene berkumandang dari kejauhan. Aku mencoba
meraih rumput untuk menegakkanku kepada realita yang harus aku terima. Dari
kejauahan kumelihat peti yang terbuat dari marmer putih nan indah,
yang sedang diangkat menuju ke arahku. Tidak, bukan ke arahku. Lebih tepatnya
ke arah tanah bebatuan di sampingku, yang sudah terkuak dalam dan lebar.
Mereka pun
mulai menurunkan peti mati tadi, ke arah galian tanah di sampingku. Aku hanya
melihat hampa, apa yang terjadi di sekitarku.
Pendeta pun
berkata sepatah kata tentang kedua orangtuaku. Bagaimana mereka sudah menjalani
hidup yang luar biasa. Bagaimana mereka membesarkan anak tunngal mereka.
Bagaimana kecelakaan mereka yang bertepatan di hari Jumat Agung, bukanlah akhir
segalanya bagiku. Bahwa aku harus menunjukkan ke dunia bahwa aku adalah anak
yang hebat hasil didikan kedua orangtuaku.Dan mereka pun mulai menyayikan
sebuah lagu.
Yesus penebus
Orang lain Kau hampiri
Jangan jalan terus
Yesus Yesus dengar doaku
Orang lain Kau hampiri
Jangan jalan terus
Dihadapan tahta rahmat
Aku menyembah
Tunduk dalam penyesalan
Tuhan tolonglah
Yesus Tuhan dengar doaku
Orang lain Kau hampiri
Jangan jalan terus
Kaulah sumber penghiburan
Raja hidupku
Baik dibumi baik disorga
Siapa bandingMu
Yesus Yesus dengar doaku
Orang lain Kau hampiri
Jangan jalan terus
Brilah berkatMu
Aku pun
menangis meraung-raung ketika peti mati kedua orangtuaku mulai digali dan
ditutupi dengan tanah. Dan aku pun tersadar, aku tidak akan pernah melihat
senyuman mereka lagi.
***
Sudah hampir
satu tahun aku terkurung di sini. Di rumah tanteku di sebuah desa di Bogor yang
jauh dari keramaian. Tante dan Oomku sudah berusaha melakukan berbagai cara
agar dapat menyembuhkan mentalku. Entah dengan memanggil pendeta atau
psikiater. Tapi semuanya sia-sia belaka. Aku tidak pernah menanggapi mereka.
Oom dan
Tanteku mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Precious. Sissy,
panggilan akrabnya adalah gadis dengan keterbelakangan mental dan sering sakit.
Dia baru bisa membaca dan menulis di usianya yang ke 8. Tetapi Oom dan Tanteku
menyayanginya dan tidak pernah sedetik pun membenci Sissy atau menyalahkan
Tuhan atas kekurangan anak mereka.
Karena sering sakit dan
kekhawatiran Tanteku, akhirnya Sissy tidak sekolah dan sebagai gantinya mereka
memanggilkan guru privat untuk mengajarkan Sissy ilmu pengetahuan dasar.
Sissy pun
sering mengantarkanku sarapan, setelah itu duduk di hadapanku dan menatapku
lama. Seperti orang lain aku pun tidak mengacuhkan keberadaannya. Walaupun aku
tidak pernah mengacuhkannya, ia setia datang menghampiriku setiap pagi, tanpa
absen satu kalipun. Kadang sesudah menatapku lama, dia mulai celoteh panjang
lebar tentang cerita-cerita yang diajarkan oleh guru sekolah minggunya di
gereja. Tapi tidak pernah aku pedulikan sama sekali.
Suatu pagi,
jam tujuh tepat, Sissy tidak datang mengantarkan sarapanku. Aku pun bernafas
lega, terbebas dari tatapan matanya yang tajam.
Aku pun ingin
melanjutkan tidurku, tetapi tiba-tiba saja dadaku berdegup keras, dan
perasaanku mulai tidak keruan. Aku pun bangun dari tempat tidurku, dan aku
menyadari perasaan ini sama seperti sama dengan perasaanku sesaat sebelum orang
tuaku ditabrak di depan gereja. Aku pun mulai ketakutan dan mulai mencari Sissy.
Aku pun
langsung ke ruang tengah, tempat biasanya ia belajar dengan gurunya, tetapi
ruangan itu kosong. Aku pun teringat kalo sudah dua hari ini guru privat Sissy
tidak masuk karena sakit. Aku pun bergegas ke arah dapur, tetapi aku hanya
melihat bibi yang sedang memasak dan babysitter yang biasa mengurus Sissy
sedang sarapan.
Tanpa
membuang waktu, aku pun bergegas ke ruang tamu, tapi Sissy pun tidak ada di
situ. Ketika hendak menuju tangga untuk mencari di atas, dari jendela kulihat
Sissy sedang asyik menulis di teras. Aku pun langsung lega, dan kelegaan itu
ternyata hanya sesaat. Tiba-tiba saja angin berhembus kencang dan membuat
kertas-kertas itu berterbangan ke segala arah. Sissy pun langsung ke jalan
untuk memunguti kertas-kertas yang berserakan di jalan dan tidak menyadari
mobil yang sedang melaju kencang ke arahnya. Dan semuanya terjadi dengan cepat.
Aku pun
membisu dan kenangan di hari kematian kedua orangtuaku berdatangan di kepalaku.
Kematian mereka di hari Kematian YESUS yang disalib demi menebus dosa-dosa umat
manusia. Dan aku pun tersadar selama satu tahun aku sudah membuat hidupku
sia-sia. Aku sudah menyusahkan Oom dan Tanteku dan seakan tidak mau melanjutkan
hidupku. Aku pun mulai menangis menyesali semuanya dan berlari ke tubuh mungil
Sissy yang tergeletak tak berdaya di jalan. Rupanya dia masih sadar, dan
memberikanku secarik kertas yang berlumuran darahnya. Di sana terdapat barisan
kalimat dengan tulisan acak-acakan khasnya.
Buat Kak Gaby..
Kakak tau gak, di dalam hidup ini banyak orang yang akan berjalan bersama kita..
Tapi posisi mereka gak sama, ada yang berjalan di depan kakak, ada yang di belakang dan ada yang berjalan di samping kakak..
Jika ada orang yang berjalan di depan kakak, berhati-hatilah, karena orang tersebut hanya akan meninggalkan kakak..
Jika ada yang berjalan di belakang kakak, bersedihlah, karena orang tersebut hanya akan menemani kakak di waktu senang saja..
Tetapi bersyukurlah kalau ada seseorang yang berjalan di samping kakak, karena orang tersebut akan setia mendampingi kakak di saat susah maupun duka..
Kenapa?
Karena Sissy sayang kakak..




2 komentar:
aku suka kalimat yg ini :
"Tapi posisi mereka gak sama, ada yang berjalan di depan kakak, ada yang di belakang dan ada yang berjalan di samping kakak..
Jika ada orang yang berjalan di depan kakak, berhati-hatilah, karena orang tersebut hanya akan meninggalkan kakak..
Jika ada yang berjalan di belakang kakak, bersedihlah, karena orang tersebut hanya akan menemani kakak di waktu senang saja..
Tetapi bersyukurlah kalau ada seseorang yang berjalan di samping kakak, karena orang tersebut akan setia mendampingi kakak di saat susah maupun duka.."
hahaha,,,
itu foto siapo neng??
akhirny pacak komeeenn,,wkwkk
aku juga suka :p
foto adek sepupu
wkwkwkk
masak cuman sikok yg dikomennn??
cupuuuu
hahhahaha
komen sikok2oi
:p
Posting Komentar