Pages

Subscribe:

Selasa, 10 Mei 2011

Kematiannya di hari Kematian-MU


Terduduk ku ditengah rerumputan. Hujan gerimis pun seakan menemani seluruh penantianku disini. Kucium bau rerumputan basah, berharap dapat membantu menelan semua kepahitan ini. Tapi aku tahu, semua itu adalah tindakan konyol yang  sama sekali tidak akan membantu. Semuanya sia-sia. Semuanya sudah terlambat. Kumenangisi seluruh keterlambatanku. Dan yang setia menampung seluruh tangisanku adalah tanah yang seakan ikut membisu menyaksikan keterpurukanku bersama orang-orang di sekitarku.
Tangisanku pun akhirnya berhenti ketika suara sirene berkumandang dari kejauhan. Aku mencoba meraih rumput untuk menegakkanku kepada realita yang harus aku terima. Dari kejauahan kumelihat  peti  yang terbuat dari marmer putih nan indah, yang sedang diangkat menuju ke arahku. Tidak, bukan ke arahku. Lebih tepatnya ke arah tanah bebatuan di sampingku, yang sudah terkuak dalam dan lebar.
Mereka pun mulai menurunkan peti mati tadi, ke arah galian tanah di sampingku. Aku hanya melihat hampa, apa yang terjadi di sekitarku.
Pendeta pun berkata sepatah kata tentang kedua orangtuaku. Bagaimana mereka sudah menjalani hidup yang luar biasa. Bagaimana mereka membesarkan anak tunngal mereka. Bagaimana kecelakaan mereka yang bertepatan di hari Jumat Agung, bukanlah akhir segalanya bagiku. Bahwa aku harus menunjukkan ke dunia bahwa aku adalah anak yang hebat hasil didikan kedua orangtuaku.Dan mereka pun mulai menyayikan sebuah lagu.

Mampirlah dengar doaku
Yesus penebus
Orang lain Kau hampiri
Jangan jalan terus
Yesus Yesus dengar doaku
Orang lain Kau hampiri
Jangan jalan terus

Dihadapan tahta rahmat
Aku menyembah
Tunduk dalam penyesalan
Tuhan tolonglah
Yesus Tuhan dengar doaku
Orang lain Kau hampiri
Jangan jalan terus

Kaulah sumber penghiburan
Raja hidupku
Baik dibumi baik disorga
Siapa bandingMu
Yesus Yesus dengar doaku
Orang lain Kau hampiri
Jangan jalan terus
Brilah berkatMu

Aku pun menangis meraung-raung ketika peti mati kedua orangtuaku mulai digali dan ditutupi dengan tanah. Dan aku pun tersadar, aku tidak akan pernah melihat senyuman mereka lagi.

***

Sudah hampir satu tahun aku terkurung di sini. Di rumah tanteku di sebuah desa di Bogor yang jauh dari keramaian. Tante dan Oomku sudah berusaha melakukan berbagai cara agar dapat menyembuhkan mentalku. Entah dengan memanggil pendeta atau psikiater. Tapi semuanya sia-sia belaka. Aku tidak pernah menanggapi mereka.
Oom dan Tanteku mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Precious. Sissy, panggilan akrabnya adalah gadis dengan keterbelakangan mental dan sering sakit. Dia baru bisa membaca dan menulis di usianya yang ke 8. Tetapi Oom dan Tanteku menyayanginya dan tidak pernah sedetik pun membenci Sissy atau menyalahkan Tuhan atas kekurangan anak mereka.
Karena sering sakit dan kekhawatiran Tanteku, akhirnya Sissy tidak sekolah dan sebagai gantinya mereka memanggilkan guru privat untuk mengajarkan Sissy ilmu pengetahuan dasar.
Sissy pun sering mengantarkanku sarapan, setelah itu duduk di hadapanku dan menatapku lama. Seperti orang lain aku pun tidak mengacuhkan keberadaannya. Walaupun aku tidak pernah mengacuhkannya, ia setia datang menghampiriku setiap pagi, tanpa absen satu kalipun. Kadang sesudah menatapku lama, dia mulai celoteh panjang lebar tentang cerita-cerita yang diajarkan oleh guru sekolah minggunya di gereja. Tapi tidak pernah aku pedulikan sama sekali.
Suatu pagi, jam tujuh tepat, Sissy tidak datang mengantarkan sarapanku. Aku pun bernafas lega, terbebas dari tatapan matanya yang tajam.
Aku pun ingin melanjutkan tidurku, tetapi tiba-tiba saja dadaku berdegup keras, dan perasaanku mulai tidak keruan. Aku pun bangun dari tempat tidurku, dan aku menyadari perasaan ini sama seperti sama dengan perasaanku sesaat sebelum orang tuaku ditabrak di depan gereja. Aku pun mulai ketakutan dan mulai mencari Sissy.
Aku pun langsung ke ruang tengah, tempat biasanya ia belajar dengan gurunya, tetapi ruangan itu kosong. Aku pun teringat kalo sudah dua hari ini guru privat Sissy tidak masuk karena sakit. Aku pun bergegas ke arah dapur, tetapi aku hanya melihat bibi yang sedang memasak dan babysitter yang biasa mengurus Sissy sedang sarapan.
Tanpa membuang waktu, aku pun bergegas ke ruang tamu, tapi Sissy pun tidak ada di situ. Ketika hendak menuju tangga untuk mencari di atas, dari jendela kulihat Sissy sedang asyik menulis di teras. Aku pun langsung lega, dan kelegaan itu ternyata hanya sesaat. Tiba-tiba saja angin berhembus kencang dan membuat kertas-kertas itu berterbangan ke segala arah. Sissy pun langsung ke jalan untuk memunguti kertas-kertas yang berserakan di jalan dan tidak menyadari mobil yang sedang melaju kencang ke arahnya. Dan semuanya terjadi dengan cepat.
Aku pun  membisu dan kenangan di hari kematian kedua orangtuaku berdatangan di kepalaku. Kematian mereka di hari Kematian YESUS yang disalib demi menebus dosa-dosa umat manusia. Dan aku pun tersadar selama satu tahun aku sudah membuat hidupku sia-sia. Aku sudah menyusahkan Oom dan Tanteku dan seakan tidak mau melanjutkan hidupku. Aku pun mulai menangis menyesali semuanya dan berlari ke tubuh mungil Sissy yang tergeletak tak berdaya di jalan. Rupanya dia masih sadar, dan memberikanku secarik kertas yang berlumuran darahnya. Di sana terdapat barisan kalimat dengan tulisan acak-acakan khasnya.

Buat Kak Gaby..
Kakak tau gak, di dalam hidup ini banyak orang yang akan berjalan bersama kita..
Tapi posisi mereka gak sama, ada yang berjalan di depan kakak, ada yang di belakang dan ada yang berjalan di samping kakak..
Jika ada orang yang berjalan di depan kakak, berhati-hatilah, karena orang tersebut hanya akan meninggalkan kakak..
Jika ada yang berjalan di belakang kakak, bersedihlah,  karena orang tersebut hanya akan menemani kakak di waktu senang saja..
Tetapi bersyukurlah kalau ada seseorang yang berjalan di samping kakak, karena orang tersebut akan setia mendampingi kakak di saat susah maupun duka..
Dan kakak tau gak, selama ini Sissy selalu berjalan di samping kakak..
Kenapa?
Karena Sissy sayang kakak..






2 komentar:

Ms. Garfield mengatakan...

aku suka kalimat yg ini :
"Tapi posisi mereka gak sama, ada yang berjalan di depan kakak, ada yang di belakang dan ada yang berjalan di samping kakak..
Jika ada orang yang berjalan di depan kakak, berhati-hatilah, karena orang tersebut hanya akan meninggalkan kakak..
Jika ada yang berjalan di belakang kakak, bersedihlah, karena orang tersebut hanya akan menemani kakak di waktu senang saja..
Tetapi bersyukurlah kalau ada seseorang yang berjalan di samping kakak, karena orang tersebut akan setia mendampingi kakak di saat susah maupun duka.."
hahaha,,,
itu foto siapo neng??
akhirny pacak komeeenn,,wkwkk

Devi Anita Aritonang mengatakan...

aku juga suka :p
foto adek sepupu
wkwkwkk
masak cuman sikok yg dikomennn??
cupuuuu
hahhahaha
komen sikok2oi
:p