Aku
adalah seorang gadis bisu. Aku hidup sendiri dan tidak mempunyai siapa-siapa.
Aku hanya mempunyai teman seorang pengemis yang bernama Toto. Saat ini aku
bekerja di salah satu restoran. Tugasku mencuci dan membersihkan restoran
tersebut.
Aku mempunyai seorang idola yang
bernama Alice. Dia seorang gadis cantik dan sangat mirip dengan adikkku yang
meninggal satu tahun yang lalu. Aku tidak pernah bisa mengabulkan permintaan
adikku yang terakhir. Ia ingin sekali membeli kalung salib bertabur berlian
yang waktu itu kami lihat di toko perhiasan di malam natal tahun lalu. Tapi dia
terlanjur meninggalkanku sebelum aku sempat membelikan untuknya. Dan aku ingin
sekali bisa membelikannya untuk Alice. Kalung itu sangat cocok untuknya.
Suatu hari boss di tempatku bekerja
melamarku. Aku memang tahu kalau bossku menyukaiku sejak lama, tapi lamarannya
membuatku kaget. Aku tidak pernah mencintainya tapi aku tidak bisa berbuat
apa-apa. Aku tidak ingin menyakiti hatinya. Ia selalu baik padaku. Setelah
berpikir beberapa hari, aku pun menerima lamarannya. Dia sangat senang dan
berkata apa yang aku inginkan untuk hadiah pertunangan kami . Aku pun berkata
melalui secarik kertas, kalau aku ingin membeli kalung salib berlian yang
sangat diinginkan adikku itu. Dan ia pun mengabulkan permintanku dan
membelikanku kalung tersebut keesokkan harinya. Aku menciumnya sebagai tanda
terima kasih.
Di malam natal yang dingin karna
hujan yang terus menerus, aku menunggu Alice di lokasi syuting ditemani Toto.
Aku ingin segera memberikan kalung salib berlian itu dan melihat Alice
memakainya. Aku tahu dari Toto bahwa Alice syuting di sekitar tempatnya
mengemis. Maka aku pun menunggunya sambil menggenggam erat kalung tersebut.
Tepat pukul setengah 12 malam Alice
keluar dari lokasi syuting. Pada awalnya kami dilarang menemuinya, tapi karena
Alice ingin bertemu dengan kami, para bodyguardnya pun mundur.
"Haloo..Ada yang bisa saya
bantu?", sapa Alice ramah.
Aku pun segera mengambil buku
catatan usangku yang selalu kubawa kemana-mana dan menulis "Aku hanya
ingin memberimu kalung ini dan melihatmu memakainya" dan aku pun
mengulurkan kalung tersebut kepadanya.
Alice menyadari bahwa aku bisu. Dia
terpaku sesaat sebelum menerimanya lalu segera memakainya. "Indah
sekali. Terima kasih", Alice berkata sambil tersenyum lebar. Dan
seakan aku melihat adikku, akupun pingsan. Toto dan Alice pun panik dan segera
membawaku ke rumah sakit.
Di
rumah sakit Toto dan Alice menunggu. Sambil menunggu Toto pun bercerita tentang
adikku. "Kau mirip sekali dengan adiknya yang meninggal tahun lalu.
Adiknya ingin sekali dibelikan kalung tersebut, tetapi dia belum bisa
mengabulkannya" Kata Toto saat mereka tengah menungguku di luar UGD.
Mendengar itu Alice hanya bisa menangis terharu.
Kondisiku
pun semakin memburuk. Aku tanpa sadar mengucapkan nama Alice berkali-kali.
Alice pun masuk ke ruangan tempatku dirawat dan menggenggam tanganku sambil
menangis. Lalu aku memberikan buku catatan usangku. Alice menerimanya dengan
bingung. Ketika membukanya, ternyata di dalamnya ada sebuah puisi.
Jika kau tak punya kaki , jangan takut...
karna pasti ada seseorang yang memberikan langkahnya kepadamu...
Jika kau tak punya mata , jangan takut...
karna pasti ada seseorang yg memberikan warna hidupnya untukmu...
Jika kau tak punya bibir , jangan takut...
Jika kau tak punya bibir , jangan takut...
karna pasti ada seseorang yg membisikkan kata-kata indah untuk
ketenangan batinmu....
Dan jika kau tak punya telinga , jangan takut...
Dan jika kau tak punya telinga , jangan takut...
karna pasti ada seseorang yg menunjukkan bahasa yg lebih indah
kepadamu..
Tapi takutlah jika kau tak punya hati ! Karna tanpa hati hidup kita tak berarti...
Dan jangan biarkan egois menguasai hatimu ! karna akan membuat hati kita mati...
Karna cinta tidak egois , dia akan selalu memberikan kesempatan kedua kepadamu......
Tapi takutlah jika kau tak punya hati ! Karna tanpa hati hidup kita tak berarti...
Dan jangan biarkan egois menguasai hatimu ! karna akan membuat hati kita mati...
Karna cinta tidak egois , dia akan selalu memberikan kesempatan kedua kepadamu......
Aku pun semakin jauh dari dunia dan
aku melihat adikku berdiri di depanku. Rohku pun semakin kuat berjalan dan
menggenggam tangan adikku lalu pergi. Semuanya berakhir tepat jam 12.00 di Hari
Natal ditemani sang gerimis.
***



1 komentar:
aku paling sukaa yang part 3 iniii,,,
hahaha
yg ini aja dikirimmm
Posting Komentar